BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Wednesday, September 25, 2013

Tugas Kreativitas: Tokoh Kreatif

Minggu lalu merupakan perkuliahan ketiga kreativitas (termasuk kontrak kuliah). Kami membahas mengenai 4P (Peson, Press, Proses dan Product). Kami di minta oleh dosen pengampu untuk menganalisa tokoh yang kami anggap kreatif berdasarkan 4P.
Tokoh yang dianggap kreatif? Awalnya bingung juga sih siapa yang mau dipikirkan. Cukup banyak orang-orang kreatif disekitar kita pastinya. Awalnya terfikir dengan seorang teman yang menurutku cukup kreatif. Tapi tiba-tiba terfikir abang sendiri.
Yaahh.. Awalnya sih di kelas menuliskan tentang teman yang kreatif ini. Tapi begitu disuruh posting, setelah dipikir-pikir lebih baik menceritakan abang sendiri. Karena sayakan cukup lama tinggal dengannya Tapi kembali terfikir, banyak orang yang bisa melakukan hal yang seperti dia lakukan. Kembali bingung lagi, tapi hati mengatakan, kalau menceritakan dia kan gak ada salahnya (hehehe..)

Berikut tokoh yang saya analisa.... J

PERSON:
Pria yang umurnya sekitar 29 tahun, belum menikah. Bekerja secara freelance sebagai web designer. Orangnya cukup pendiam, namun cerdas. Sejak kecil dia emang sering bermain komputer. Disaat orang-orang lebih senang main-main yang gak jelas, dia lebih senang bermain komputer. Di saat orang-orang (teman sebayanya) baru bisa menghidupkan komputer, dia justru sudah dapat mengotak-atiknya. Di komputer dia bukan sekedar bermain, tapi dia mencari berbagai info dari internet.
Di keluarga memang tidak melarang kami bermain dengan komputer, asalkan kami tidak lupa waktu, tidak lupa mengerjakan PR, dan tetap bersekolah. Namun, yang paling terobsesi dengan komputer hanyalah dia saat itu. Mama cukup panik karena itu, yaah karena seringnya dia di depan komputer dia jarang mau bermain di luar rumah bersama teman-teman sebayannya. Mama menyuruh bahkan memaksa dia untuk keluar rumah agar dia berain dengan teman-temannya.
Dia berkuliah di Universitas Swasta di Yogyakarta jurusan Tekhnik Informatika. Yahh jurusan yang sesuai dengannya. Dia suka komputer dan dia berkuliah di jurusan yang diinginkannya. Dia kuliah sambil bekerja. Bekerja secara freelance. Pada memasuki tahun kedua kuliah, mama papa jarang mengirimkan dia uang bulanan (kos, makan, uang kuliah) yaah sebenarnya karena dia tidak pernah meminta.
Setelah selesai kuliah, ia tetap melanjutkan pekerjaannya tersebut. Web Design yang lebih sering orang luar (luar negeri) meminta kepada perusahaan mereka untuk dibuatkan web. Dan mendapatkan penghasilan yang cukup besar. J

PRESS:
Memiliki abang yang bekerja sebagai web designer cukup membanggakan. Bangga bukan dengan hasil yang “wah” dia peroleh, tapi lebih kemandiriannya, dan berani bertanggung jawab dengan apa yang dia pilih. Membayar biaya kos, kehidupan, kuliah semua ia lakukan sendiri.
Ketika ditanyakan tentang hambatan, pastilah ada hambatan. Ia kuliah layaknya remaja yang berkuliah. Namun, berkuliah sambil bekerja mendapat pertentangan dari mama dan papa meskipun tidak besar. Karena dengan bekerja ia akan menghambat kuliahnya. Namun, mama papa tidak berani melarang terlalu keras, karena mereka tidak selalu membayar keperluan kehidupannya.
Dorongan internal (motivasi diri) saya rasa awalnya lebih besar disini.  Dia men-design web (yang setau saya, dia tidak pernah belajar khusus tentang ini. dia hanya otodidak) karena dia suka berada di depan komputer, kalau disuruh menggambar dengan pensil, dia gak bisa. Motivasinya lagi, menurut saya lebih ke bagaimana caranya dia bisa membiayai hidupnya. Dia berusaha keras untuk menghasilkan sesuatu hingga dapat di jual.
Dorongan Eksternalnya, banyak permintaan (khususnya luar negri) yang meminta bantuan instansi mereka untuk men-design web dengan bayaran yang cukup tinggi. Memang permintaan tiap orang berbeda, tapi rata-rata mereka menyukai dengan apa yang instansi mereka buat. Hingga sekarang banyak sekali permintaan yang mereka terima.

PROSES
Ketika dikaitkan dengan teori Wallas yang meliputi 4 tahapan:
1.    Persiapan. Yang menurut saya dia “buta” dalam hal design, dia bertanya-tanya ke teman-temannya yang merupakan designer, mencari informasi-informasi dari internet, dan sebagainya.
2.    Inkubasi. Dia awalnya mencoba-coba men-design sendiri. Memang terjadi trial-error, namun ia tetap terus berusaha.
3.    Iluminasi. Setelah berkali-kali trial-error, akhirnya dia berhasil membuat sesuatu yang pasti menuerutnya keren.
4.    Verivikasi. Dan ketika dia mengajukan design-annya, ternyata cukup banyak orang yang menyukainya. (Alhamdulillah..)

PRODUCT

Hasilnya, karena dia web-design, maka yang pertama kali yang dihasilkannya adalah designnya. Yang kedua uang, dari uang yang diperoleh,  dia bisa membeli apapun yang ia mau. Sekarang dia tidak hanya men-design web, namun banyak aktivitas komputer lainnya yang bisa ia kerjakan, misalnya design game, dan lainnya..

Tuesday, September 17, 2013

Tugas Resume 2

Pendekatan 4P dan Pengembangan Kreativitas


Minggu lalu adalah minggu pertama perkuliahan KREATIVITAS dimulai (Masuk kepembahasan). Ketika masuk kami diberikan tugas oleh dosen pengampu untuk membuat suatu kreativitas dari bahan-bahan yang sederhana. Bahan-bahan yang sering kita jumpai. Yaitu:
  1.  Sampul Jilid (Kertas jeruk + Plastik lapis atas + lakban hitam)
  2. Tisu cantik
  3. Brosur
  4. Name Tag

Bahan yang sederhana,namun ternyata kita bisa menyulapnya menjadi suatu yang gak kalah kerennya. Saya sendiri membuat 3 aitem dari ke 4 barang tersebut. Yaitu:
  1. Bunga dari tisu - Saya membuat bunga mawar dari tisu, kebetulannya beberapa hari yang lalu sebelum perkuliahan ini, saya ada melihat disalah satu web tentang membuat bunga mawar dari tisu. Dan kebetulannya pada perkuliahan kali ini, saya bisa mempraktekkannya.
  2. Schedule List - Awalnya bukan ini yang ingin saya buat, namun karena keterbatasan alat, membuat pekerjaan sedikit terhambat. Maka saya merubah plan awal, menjadi membuat schedul list ini. Saya membuat schedule list dari sampul jilid. Hal ini terinspirasi dari kerjaan saya sendiri selama liburan untuk memaksimalkan kegiatan-kegiatan saya.
  3. Membuat kartu ucapan - Dengan bermodalal kertas brosur, name tag dan hekter saya membuat kartu ucapan. Sebenarnya kartu ucapannya saya buat dari name tag, dan saya masukkan dalam kertas brosur yang sudah dibuat seperti bingkai foto.

 Schedule List yang di buat di kampus. Berantakan!
v
v
v

Schedule List yang di buat saat liburan. Lebih rapi.. :)

Bunganya dilekatkan dikartu ucapannya. :S


Memang, dari semua yang saya buat, tidak ada yang menghasilkan hal yang memuaskan. Hal ini mungkin karena keterbatasan waktu dan alat. Sehingga hasilnya hanya sekedarnya (dan menurut saya juga sih, kalau sesuatu cepat puasnya kan gak seru juga, bisa buat malas berkarya). Dan disinilah dituntut kreativitasnya. Saat tidak ada gunting, dengan apa kita memotong? Saat tidak ada lem, alternatif lain apa lagi yang kita gunakan untuk merekatkan? Saat ketersediaan barang terbatas, benda apa yang dapat kita hasilkan? Pada mata kuliah ini lah kita di “paksa” untuk berfikir lebih untuk menghasilkan suatu kreativitas.

Untuk menghasilkan suatu kreativitas, kita membutuhkan 4P (Person, Press, Process dan Product). Empat (4) P ini melandasi pengembangan kreativitas individu. Berikut penjelasannya (diringkas dari Buku Pengmbangan Kreativitas Anak Berbakat oleh Prof. Dr. Utami Munandar):

1.  Pembentukkan Pribadi (Person) yang Kreatif
Ada banyak teori yang berusaha menjelaskan pembentukan kepribdian kreatif. Dalam buku ini membahas dari 2 mazhab, yaitu psikoanalisa dan humanistik.
a.   Teori Psikoanalisa
Teori Psikoanalisa oleh Sigmund Freud (1856-1939), Ernest Kris (1900-1957), dan Carl Jung (1875-1961) memandang kreativitas sebagai hasil mengatasi suatu masalah, yang biasanya dimulai di masa anak. Pribadi kreatif dipandang sebagai individu yang pernah mengalami traumatis, yang dihadapi dengan memungkinkan gagasan-gagasan yang disadari dan yang tidak disadari bercampur menjadi pemecahan inovasidari trauma. Tindakan Kreatif mentransformasikan keadaan psikis yang tidak sehat menjadi sehat.
b.  Teori Humanistik
Teori Humanistik oleh Abraham Maslow (1908-1970) dan Carl Rogers (1902-1987) melihat kreativitas sebagai hasil dari kesehatan psikologis tingkat tinggi. Kreativitas dapat berkembang selama hidup dan tidak terbatas pada limatahun pertama.
c.   Ciri-ciri kepribadian kreatif
Biasanya anak-anak kreatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
·           Selalu ingin tahu
·           Minat luas
·           Menyukai aktivitas kreatif
·           Mandiri
·           Memiliki rasa percaya diri
·           Terorganisasi dalam tindakan (menurut Treffinger)
·           Energi, Spontanitas dan kepetualangan yang luar biasa
·           Memiliki rasa humor yang tinggi
·           Idealisme
·           Refleksi
·           Tertarik pada hal yang rumit dan misterius
Berikut pandangan tentang ciri-ciri pribadi yang kreatif di Indonesia oleh pakar psikologi:
·         Imajinatif
·         Mempunyai prakarsa
·         Mempunayi minat luas
·         Mandiri dalam berfikir
·         Melit
·         Senang bertualang
·         Penuh energi
·         Percaya diri
·         Bersedia mengambil resiko
·         Yakin

2.  Teori –teori tentang “Press”
Kreativitas anak dapat terwujud dengan adanya dorongan dalam diri individu (motivasi intrinsik) dan dorongan dari lingkungan (motivasi ekstrinsik)
a.   Motivasi untuk kreativitas
Setiap orang ada kecenderungan untuk mewujudkan potensinya. Dorongan untuk menjadi matang, untuk mengungkapkan dang mengaktifkan semua kapasitas seseorang. Dorongan ini merupakan motivasi primer untuk kreativitas ketika individu membentuk hubungan-hubungan baru dengan lingkungannya.
b.  Kondisi Eksternal mendorong perilaku kreatif
Kreativitas memang tidak bisa dipaksakan, tetapi harus dimungkinkan untuk tumbuh. Bibit unggul memerlukan kondisi yang memupuk dan memungkinkan bibit itu mengembangkan sendiri potensinya.

3.  Teori tentang Proses kreatif
a.   Teori Wallas
Menurut teori Wallas yang dikemukakan pada tahun 1926 dalam bukunya The Art of Thought (Piirto, 1992) menyatakan bahwa proses kreatif meliputi 4 tahapan, (1) persiapan; (2) Inkubasi; (3) Iluminasi; (4) Verifikasi.
b.  Teori tentang Belahan Otak Kanan dan Kiri
Hemisper setiap orang memiliki sisi dominan. Pada umumnya orang lebih biasa menggunakan tangan kanan, berarti ia didominasi oleh otak kiri. Sedangkan orang yang kidal (menggunakan tangan kiri) mereka memiliki dominasi otak kanan. Dihipotesiskan, bahwa otak kanan berkaitan dengan fungsi kreatif, sehingga terjadi “dichotomania”, membagi-bagi semua fungsi mental menjadi fungsi belahan otak kanan atau kiri.

4.  Produk
Bakat dan ciri-ciri pribadi yang kreatif memiliki kondisi pribadi dan lingkungan yang menunjang (press) atau lingkungna yang memberikan kesempatan/peluang untuk bersibuk diri secara kreatif maka diprediksikan bahwa produk kreativitas akan muncul.

Wednesday, September 11, 2013

KREATIVITAS : Tugas Resume 1

KONSEP KEBERBAKATAN DAN KREATIVITAS


            Kreativitas sangat dibutuhkan dari aspek kehidupan manapun. Namun, kebutuhan akan kreativitas ini jarang dilatih. Guilford (1950)  menyatakan betapa penelitian dalam bidang kreativitas sangat kurang, sebagaimana yang dinyatakannya dalam pidato pelantikannya sebagai Presiden APA, bahwa:

“Keluhan yang paling banyak saya dengar mengenai lulusan PT kita ialah bahwa mereka cukup mampu melakukan tugas-tugas yang diberikan dengan menguasai tekhnik-tekhnik yang diajarkan, namun mereka tidak berdaya jika dituntut memecahkan masalah yang memerlukan cara-cara baru.”

I.         KONSEP KREATIVITAS
1.  Kreativitas dan Aktualisasi Diri
Menurut Psikolog Humanistik (seperti: Abraham Maslow dan Carl Rogers) mengatakan bahwa Aktualisasi diri ialah apabila seseorang menggunakan semua bakat dan talentanya untuk menjadi apa yang ia mampu – mengaktualisasikan atau mewujudkan potensinya. Menurut Maslow (1968) aktualisasi merupakan karakteristik fundamental, suatu potensialitas yang ada pada semua manusia saat dilahirkan, akan tetapi yang sering hilang, terhambat atau terpendam dalam proses pembudayaan. Rogers (1962) menekankan bahwa sumber dari kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasi diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang, kecenderungan untuk mengekspresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme.

Yonge (1975) menemukan korelasi positif antara skor pada ukuran aktualisasi diri (Personal Orientation Inventory, Shostrum, 1963) dan beberapa ukuran kreativitas, seperti skala kreativitas “Adjective Checklist”. Maslow membedakan antara:

a.  Kreativitas talenta khusus: Orang-orang yang memiliki bakat yang luar biasa. Misalnya: seni, musik, sastra, teater, sains, bisnis, dll
b.    Kreativitas aktualisasi diri: orang-orang yang memiliki keshatan mental, hidup sepenuhnya dan produktif, dan cenderung menghadapi semua aspek kehidupannya secara fleksibel dan kreatif.

Kreativitas aktualisasi diri adalah kekreatifan yang umum dan “content free”. Program kreativitas bertujuan:

a.    Meningkatkan kesadaran kreativitas
b.    Memperkokoh sikap kreatif
c.    Mengajarkan teknik menemukan gagasan dan memecahkan masalah secara kreatif
d.    Melatih kemampuan kreatif secara umum

2.    Konsep Kreativitas dengan Pendekatan 4P
Beberapa definisi tentang kreativitas berdasarkan 4P (Person, Process, Press, Product) :

a.    Definisi Pribadi (Person)
Menurut Hulbeck (1945) “creative action ia an imposing of one’s own whole personality on the environment in an unique and characteristic way”.
b.    Definisi Proses (Process)
Definisi proses yang terkenal adalah dari Torrance (1988) tentang kreativitas yang menyerupai langkah-langkah metode ilmiah. Mulai dari menemukan masalah sampai menyampaikan hasil.
“the process of 1) sensing difficulties, problems, gaps in information, missing elements, something asked; 2) making guesses and formulating hypotheses about these deficiencies; 3) evaluating and testing these guesses and hypotheses; 4) possibly revising and retesting them; and 5) communicating the result (1988: 47).”
c.    Definisi Produk (Product)
Definisi yang berfokus pada produk kreatif menekankan orsinalitas, dalam definisi yang dikemukakan oleh Baron (1969) yang menyatakan bahwa ‘kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru’. Rogers (dalam Vernon, 1982) mengemukakan kriteria untuk produk kreatif adalah:
1)    Produk harus nyata (observable)
2)   Produk harus baru
3) Produk itu adalah hasil dari kualitas unik individu dalam interaksi dengan lingkungannya
d.    Definisi “Press” (dorongan)
Definisi kreativitas yang mengarah pada “press” atau dorongan, baik dorongan internal (dari diri sendiri berupa keinginan dan hasrat untuk menciptakan atau bersibuk diri secara kreatif) maupun dorongan eksternal (lingkungan sosial dan psikologis). Kreativitas tidak akan berkembang dalam kebudayaan yang terlalu menekankan konformitas dan tradisi, dan kurang terbuka terhadap perubahan dan perkembangan baru.

II.          KONSEP ANAK BERBAKAT DAN KEBERBAKATAN (GIFTEDNESS)
Apa yang dimaksud dengan ‘keberbakatan’ dan ‘anak berbakat’? Istilah ini menunjukkan suatu perkembangan dan pendekatan ‘uni-dimensional’ ke pendekatan ‘multi-dimensional’.

1.       Definisi U.S. Office of Education (USOE) tentang keterbakatan
Dalam seminar nasional mengenai Alternatif Program Pendidikan bagi Anak Berbakat, disepakati bahwa (adopsi dari definisi USOE. Maryland, 1972):

Anak berbakat adalah mereka yang oleh orang-orang profesional diidentifikasi sebagai anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul. Anak-anak tersebut memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi dan/atau pelayanan di luar jangkauan program sekolahbiasa agar dapat merealisasikan sumbangan mereka terhadap masyarakat maupun pengembangan diri sendiri.

Kemampuan-kemampuan tersebut, baik secara potensial maupun yang telah nyat, meliputi:

  • Kemampuan intelektual umum
  • Kemampuan akademik khusus
  • Kemampuan berfikir kreatif-produktif
  • Kemampuan memimpin
  • Kemampuan dalam salah satu bidang seni
  • Kemampuan psikomotor (seperti dalam olahraga)

2.       Konsepsi Renzulli tentang Keterbakatan
Three-Ring Conception” dari Renzulli dan kawan-kawan (1981), menyatakan 3 ciri pokok yang merupakan kriteria (persyaratan) keberbakatan ialah keterkaitan antara:
a.    Kemampuan di atas rata-rata (Intelligensi)
b.    Kreativitas
c.    Pengikatan Diri terhadap Tugas

Renzulli (1981) memberi kritik terhadap definisi USEO, bahwa definisi tersebut mengabaikan motivasi atau task-commotment sebagai ciri afektif yang penting pada orang berbakat.



Friday, June 28, 2013

Membuat CupCake



DREAMERSRADIO.COM - Bagi pecinta kue, pasti gak asing lagi dengan yang namanya cupcake kan? Cupcake kue yang diasukkan kedalam tempat-tempat kecil. Banyak orang yang menghias cupcakenya menjadi bentuk-bentuk yang lucu dan cantik-cantik. Ternyata membuat cupcakes tidak sesulit yang kita bayangkan lho. Jika ingin bereksprimen membuat cupcakes sendiri, sepertinya resep mini cupcake super simpel yang satu ini akan sangat membantu. Yuk, intip cara membuat mini cupcake berikut ini dengan bahan-bahan yang simpel pula. Lebih seru lagi, ajak si Kecil untuk membantu menghiasnya. Sekalian membantu melatih kreativitas mereka. :D

(untuk 6 buah mini cupcakes)
Bahan-bahan:
1. 50 gr Mentega tawar
2. 50gr Gula pasir
3. 50 gr Tepung terigu
3. 1 butir telur
4. 1/8 sdt Baking Powder
Hiasan:
1. Butiran coklat warna warni
2. Choco cips
3. Gula hias warna warni
Cara membuat:
1. Kocok mentega dan gula hingga lembut
2. Masukkan telur dan kocok hingga merata
3. Masukkan tepung terigu, lalu aduk hingga rata
4. Tuangkan adonan ke cetakan mini cupcakes sampai ¾ penuh
5. Taburkan hiasan di atasnya
6. Panggang dalam oven dengan suhu 180° Celcius selama 30 menit
7. Angkat dan dinginkan

Selamat Menikmati.. :D :D :D

Saturday, June 8, 2013

Testimonial Kuliah Online 7 Juni 2013

Waahh!! Kuliah Online tadi malam sangat ‘WAAWW!!’

Perjanjian kuliah online mulai jam 19.00, namun masi ada teman-teman yang tidak mengakses informasi kalau tadi malam kuliah online-nya. Sampai harus di SMS untuk diingatkan. Untung keburu mengikuti kuliah online ini.

Kuliah sepertinya berlangsung cukup baik, meskipun selalu kendalanya di jaringan. Tapi sejauh proses perkuliahan, semua mengikuti tata caranya. Misalnya untuk absen, menjawab pertanyaan, dan mengerjakan tugas.

Tugas yang diberikan sebenarnya tidak begitu susah, namun karena saya membaca instruksinya setengah-setengah, jadi merasa tugasnya membingungkan. Tapi setelah menelaah tiap tulisan, baru saya pahami tugasnya. Dan lagi di awal perkuliahan sebenarnya Ibu Dina sudah memberikan kata kunci dari pertanyaan akan tugas, sehingga memudahkan saya juga untuk mengerjakan tugasnya. :D Meskipun saya tidak sempurna menyelesaikannya.

Sebenarnya kuliah seperti ini sangat seru. Saya menyukai konsep perkuliahan ini (kuliah online .red). Tapi lagi-lagi jaringan internet dapat mengganggu perjalanan kuliah ini. Tiba-tiba koneksi terputus, sehingga informasi yang di dapat pun terputus (untung ada history chat). Namun, karena hal-hal ini lah solidaritas kita terbangun kembali (bulak balik chat teman-teman untuk menanyai tugas, meng-reinvite teman-teman yang terputus jaringannya).


Mungkin lain kali kita bisa kuliah online seperti ini lagi. Karena seru. Belajar memecah konsentrasi, mengerjakan soal sambil meladeni chat teman-teman. :D Tapi tetap harus memastikan jaringan internet. Karena jaringan inilah yang selalu menyatukan kita.. :D :D

Sunday, May 5, 2013

Laporan Mini Projek Paedagogi


Setelah melakukan berbagai percobaan dalam melakukan pengajaran, kami juga mendapatkan pembelajaran pastinya. Pembelajaran bahwa tugas seorang guru itu tidak hanya mengajarkan apa yang ia tahu, dan selesai begitu saja. Tapi, kita juga harus memastikan, apa yang kita ajarkan itu bermanfaat atau gak? apa mereka paham dengan yang kita ajarkan? Maka dari itu, Guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Berikut adalah laporan kami dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Kami belajar menjadi seorang Guru, pahlawan tanpa tanda jasa...


Kelompok I


Tujuan dan Manfaat Pembelajaran

·         Pengajar :
o   Pengajar juga belajar menghadapi anak-anak (murid) dengan cara yang baik dan benar
o   Membantu melatih kemampuan motorik anak-anak
o   Memberikan pengalaman dalam bidang proses belajar mengajar pada anak-anak (murid)
·         Murid :
o   Melatih kemampuan motorik
o   Meningkatkan kreativitas
o   Melatih menggunakan gunting, jarum

Landasan Teori

A. Kesiapan Mengajar

Mengajar bermakna tindakan seseorang atau tim dalam memberikan petunjuk atau menyampaikan informasi, pengalaman, pengetahuan, dan sejenisnya kepada subjek didik agar mereka mengetahui dan memahami sesuai dengan tujuan yang dikehendaki (Danim, 2010).
Kegiatan mengajar yang baik terjadi ketika adanya motivasi pada peserta didik. Proses pendidikan perlu menganggkat motivasi terhadap belajar kepada peserta didik, sehingga adanya keinginan yang kuat dan menginspirasi kepada peserta didik tentang proses belajar. Ada beberapa karakteristik kemampuan mengajar yang dapat menginspirasi siswa, yaitu:
1.     Keahlian pokok 
2.    Ahli paedagogi 
3.    Komunikator yang unggul 
4.    Mentor yang berpusat pada siswa 
5.    Asesor yang sistematis dan berkelanjutan

Proses mengajar anak-anak biasanya dikenal dengan sebutan paedagogi. Paedagogi mempunyai dua kategori, yaitu paedagogi formal dan paedagogi vernakuler. Paedagogi formal berupaya mengembangkan prinsip dan teori paedagogi yang efektif melalui penelitian yang sistematik, lebih abstrak, dan umum. Sedangkan paedagogi vernakular lebih menekankan pada pengetahuan praktis dan empiris atau pengalaman individu untuk meningkatkan aplikasi paedagogi formal. Jadi, paedagogi formal dan paedagogi vernakural saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan.
Suatu proses kegiatan belajar-mengajar akan menjadi efektif ketika guru menikmati apa yang diajarkan dan murid menikmati pelajaran yang dipelajari. Ketika kedua hal ini tercapai, maka proses belajar-mengajar akan berjalan dengan lancar. Ketika proses ini berjalan dengan lancar, maka murid dan guru akan memperoleh tujuan dari pembelajaran itu.

B. Perkembangan Anak

Setiap detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun anak akan terus berkembang. Perkembangan yang akan terus dan penting untuk berkembang adalah kognitif, motorik, dan psikososial.  Perkembangan kemampuan motorik pada anak sangatlah penting agar anak-anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Ada 2 kemampuan motorik yang harus dikembangkan oleh anak-anak (Papalia, 2007), yaitu:

Kemampuan motorik kasar: kemampuan fisik yang terkait dengan perkembangan otot besar. Perkembangan sensoris dan motorik pada cerebral cortex memberikan koordinasi yang lebih baik sehingga anak-anak bisa melakukan apa yang mereka ingin lakukan, seperti lari, lompat, dan memanjat.

Kemampuan motorik halus: kemampuan fisik terkait dengan otot-otot kecil dan koordinasi mata-tangan. Anak-anak yang memiliki kemampuan ini akan lebih bertanggung-jawab terhadap kebutuhan diri mereka sendiri. Contoh kegiatan yang dilakukan dengan kemampuan motorik halus, yaitu mengancing baju, menggambar, menggunting, dan sebagainya.

Perencanaan
Rencana I

Partisipan                : anak jalanan
Materi pembelajaran    : membuat alas cangkir dari sedotan dan benang wol

Pada awalnya kelompok kami merencanakan memberikan pengajaran pada kelompok anak jalanan yang sering bermain disekitaran Fakultas Psikologi USU, karena menurut kami anak jalanan membutuhkan pembelajaran ini (membuat alas cangkir dari sedotan dan benang wol) untuk menambah pemasukan mereka. Bahan yang digunakan untuk proses pembelajaran ini sangat mudah didapat dan hanya memerlukan biaya yang relatif murah, dan hasilnyapun dapat mereka gunakan sendiri atau mereka jual kembali.
Setelah mencari bahan pengajaran, kami menemui mereka untuk memberi tahukan tujuan pembelajaran yang kami rencanakan. Namun, kendala yang kami dapatkan bukan berasal dari mereka (peserta didik) namun dari pendamping mereka (Tante Bos). Maka dari itu, kami mengganti dan mencari calon peserta didik lainnya.

Rencana 2


Partisipan              : Keponakan RA
Materi pembelajaran : membuat kincir angin, telepon dari kaleng, atau pesawat dari kardus bekas

Rencana proses pembelajaran yang kedua, kami memiliki tema pemberian materi mengenai daur ulang (menggunakan bahan bekas untuk menghasilkan suatu barang). Tujuannya agar peserta didik tahu, bahwa tidak semua barang bekas itu tidak berguna dan dibuang. Akan tetapi, bahan-bahan bekas itu juga dapat diolah menjadi sesuatu yang mengasyikkan, misalnya saja mainan.
Setelah perencanaan materi, kami menemui peserta didik untuk membangun raport dengan mereka, mengumpulkan data, dan menanyakan kesiapan mereka. Kami menawarkan materi pembelajaran yang kami persiapkan, namun respon yang didapat tidak begitu baik. Berikut Responnya:


  • Ab (kelas 4 SD): “sudah pernah kak buat itu”, dengan gesture tidak begitu tertarik dengan penawaran materi.
  • Ar (Kelas 2 SD): Hanya senyum, tidak merespon langsung dan hanya duduk lemas
  • Ta (Kelas 1 SD): Menjawab pertanyaan dengan ceria, namun respon tentang kesukaan mainan, “lebih suka main Ipad kak”.

Setelah itu kami mencoba untuk menyesuaikan jadwal mereka dengan jadwal kami agar bisa melakukan kegiatan mengajar ini, tetapi waktu anak-anak itu tidak ada yang cocok karena mereka berasal dari sekolah yang berbeda dan tingkat kelas yang berberda, serta ditambah dengan respon mereka yang kurang antusias dengan materi, kami kemudian mencari partisipan lain.

Rencana 3



Partisipan            : adik dan teman adiknya ZA
Materi pembelajaran: belum ditentukan

Pada perencanaan proses pembelajaran kali ini, kami tidak menentukan materi pembelajaran. Kami berfokus dengan pembangunan raport dan ketertarikan peserta didik mengenai proses pembelajaran yang mereka inginkan, agar proses pembelajaran ini berjalan dengan lancar.

Kami menemui mereka untuk membangun raport dan mengumpulkan data mengenai ketertarikan mereka. Dari perbincangan yang kami lakukan, kami mendapatkan mereka menyukai olahraga sepak bola dan anime. Saat sedang mengobrol tentang anime, salah seorang anak menunjuk gantungan kunci salah satu anggota kami, gantungan kunci yang terbuat dari kain flanel berbentuk piano. Ternyata mereka tertarik dengan gantungan kunci itu, dan menanyakan “bisa buat bentuk naruto kak??”, kami senyum dan menjawab “bisaa. Mau di ajarin?”. Mereka menjawab dengan antusias, “mau kaak!”. Sehingga kami memutuskan untuk mengajari peserta didik tersebut sebuah mainan kunci dari kain flanel, dan dibentuk menjadi aksesoris anime.

Setelah itu, kami menanyakan waktu yang pas antara mereka dan kami untuk bertemu, mempelajari pembuatan gantungan kunci tersebut. Dan kami juga menanyakan apa yang ingin mereka buat, hal ini agar warna-warna dari kain flanel yang mereka butuhkan tidak kurang.

Proses Pembelajaran

Jumlah Peserta didik : 4 Orang
Simpulan hasil observasi awal


Peserta Didik 1
Nama Lengkap            : Ahmad Fandi
Nama Panggilan          : Fandi
Kelas                      : 6 SD
Tempat/Tanggal Lahir   : Padang Sidempuan, 17 Juni 2001
Pelajaran yang disukai   : B. Indonesia dan IPS
Hobi                      : Main sepak bola dan Futsal

Peserta Didik 2
Nama Lengkap            : Ahmad Nuari
Nama Panggilan          : Ari
Kelas                      : 6 SD
Tempat/Tanggal Lahir   : Medan, 11 Januari 2001
Pelajaran yang disukai   : PKN dan IPS
Hobi                      : Main sepak bola dan Futsal

Peserta Didik 3
Nama Lengkap            : Esa Prasetio Wiratno
Nama Panggilan          : Esa
Kelas                      : 6 SD
Tempat/Tanggal Lahir   : Medan, 13 Juni 2001
Pelajaran yang disukai   : Agama dan IPS
Hobi                      : Main sepak bola dan Futsal

Peserta Didik 4
Nama Lengkap            : Zogi Arian Pratama Samosir
Nama Panggilan          : Zogi
Kelas                      : 4 SD
Tempat/Tanggal Lahir   : Medan, 17 Agustus 2003
Pelajaran yang disukai   : Matematika dan B. Inggris
Hobi                      : Main sepak bola dan Futsal


Pelaksanaan
Tanggal:       7 April 2013
Waktu :       17.00-20.00
Lokasi :        Pondok Halama Salah Satu Rumah Peserta Didik

Perlengkapan Kegiatan
Alat:
·         kamera ponsel 
·         gunting 
·         pensil 
·         penggaris 
·         lem 
·         jarum 
·         kertas pola

Bahan:
·         kain felt 
·         benang wol 
·         benang jahit
·         gantungan kunci

Laporan Kegiatan

Saat kegiatan pengajaran dimulai, keempat peserta didik yang bernama Fandi, Ari, Esa, dan Zogi sangat antusias, mereka terus bertanya mengenai alat dan bahan yang kami bawa beserta pola-pola bentuk gantungan kunci. Berikut adalah hasil observasi saat kegiatan mengajar berlangsung:

Peserta Didik:

Fandi:
  • Menjawab saat ditanya teman dan pengajar 
  • Tersenyum saat menggambar pola 
  • Tersenyum saat mengunting kertas pola 
  • Tersenyum saat menempel hasil guntingan 
  • Duduk diam melihat teman-temannya melakukan kegiatan 

Ari:
  • Menggambar pola dengan serius
  • Menggunting pola dengan serius 
  • Menempelkan hasil guntingan dengan serius 
  • Bertanya saat ada hal yang tidak mengerti kepada pengajar
  • Membantu Zogi menggambar pola 
  • Membantu Zogi menggunting pola 

Esa: 
  •  Aktif berbicara
  •  Suka bercanda
  •  Menggambar pola sambil bercerita dengan teman
  •  Menggunting pola sambil bercerita dengan teman
  •   Menempel hasil guntingan sambil bercerita dengan teman
  •  Meminta kain felt untuk latihan di rumah

Zogi:
  •  Sangat aktif berbicara dengan teman
  •  Mengejek hasil karya temannya
  •  Berjalan kesana kemari
  •  Menggambar pola sambil bercerita dengan teman
  •  Menggunting pola sambil mengeluh
  •  Menempelkan hasil guntingan sambil mengeluh
  •  Membuat 2 gantungan kunci
  •  Suka difoto
  •  Aktif bertanya kepada pengajar
  •  Tidak pandai mengambar
  •  Selanjutnya hasil observasi terhadap pengajar:

Tim Pengajar

Susi:

  • Melakukan salam pembuka bersama Sarah
  •  Mengeluarkan peralatan dan bahan dari tas
  •  Memberi arahan membuat pola pada peserta
  • Mempraktekkan dasar membuat pola di kertas
  • Menggambar pola dengan jangka
  •  Mempraktekkan cara menggunting pola
  • Memfoto proses kegiatan
  •  Membantu memasangkan gantungan kunci Esa dan Fandi

Chairuna:

  •  Memfoto proses kegiatan
  • Membantu membuat pola Ari dan Fandi
  • Membantu Ari memotong pola
  • Menjawab pertanyaan Ari
  • Membantu Zogi membuat pola hiasan
  • Membantu memasang gantungan kunci Ari

Sarah:

  •  Melakukan salam pembuka bersama Susi 
  • Memegang dan membawa peralatan dan bahan ke pondok 
  • Menggambar pola dengan melihat foto 
  • Mengarahkan cara menggambar pola 
  • Memberi arahan cara menggunting pola 
  • Memberi arahan cara menempel hasil guntingan 
  • Membantu Fandi mengunting hiasan pola 
  • Membantu memasang gantungan kunci Zogi

Hasil Kegiatan

Setelah proses pembelajaran selesai, dan gantungan kunci yang mereka (Fandi, Esa, Ari, dan Zogi) buat juga telah selesai, mereka sangat senang. Fandi dan Zogi membuat 2 gantungan kunci (gitar dan dragon ball). Esa membuat dragon ball, dan ari membuat buku Death Note. Mereka meminta sebagian bahan, dan katanya ingin membuat bentuk lainnya di rumah.

Untuk memberi penambahan semangat, kami juga menyediakan snack berupa makanan ringan dan minuman, dan kami makan bersama saat penutupan. Sebelum penutupan, kami bercerita-cerita lagi tentang kegiatan belajar tersebut, ternyata  mereka sangat senang, dan menanyakan kapan main-main seperti ini lagi.

Evaluasi Kegiatan

Dalam perencanaan kegiatan, kami menemukan beberapa kendala, yaitu :

  • Kendala mencari peserta didik 
  • Kendala mencari waktu yang sesuai antara anggota kelompok dan peserta didik 
  • Kendala pada materi yang ingin diajarkan pada peserta didik

Ada 2 perencanaan yang gagal dijalankan yaitu rencana 1 dan 2, dari kegagalan itu kami belajar bahwa untuk memberikan informasi berupa pengetahuan tidaklah mudah, semua itu tergantung dengan peserta didik atau target kegiatan, untuk itu kami harus mencari tahu dulu apa yang dibutuhkan oleh peserta didik, apa yang disukainya, dan manfaat apa yang diperoleh jika mereka mengikuti kegiatan ini. Namun, tetap perlu adanya persiapan dan penawaran materi yang dikuasai oleh pengajar.

Jika dilihat dari proses pengajaran, kami sudah berusaha mengikuti prinsip paedagogi, dimulai dari cara mengajar kami sudah mempelajari cara membuat gantungan kunci secara teoritis dan praktis, kami sudah berdiskusi cara membuat gantungan kunci dengan cara yang paling sederhana dan mempraktekkannya agar saat proses mengajar kami bisa mengajarkan dengan baik dan benar. Kami mencoba memotivasi peserta didik untuk belajar membuatnya sendiri di rumah dan juga memberikan beberapa bahan untuk mereka agar bisa latihan di rumah. ketika proses belajar-mengajar ini berlangsung kami dan peserta didik sama-sama menikmati apa yang sedang kami kerjakan, hal ini terlihat dari senyuman para peserta didik dan pengajar. Ketika Kegiatan ini berlangsung ada beberapa masalah yang dihadapi oleh kelompok, yaitu cahaya lampu di pondok kurang terang dan banyak nyamuk karena di sekitar pondok terdapat kolam dan tanaman.

Perincian Biaya
Rincian
Jumlah
Harga/satuan
Total
Minuman
1 botol
Rp 14.500
Rp  14.500
Snack
1 bungkus
Rp   7.500
Rp    7.500
Snack
4 bungkus
Rp   4.000
Rp  16.000
Lem
1 biji
Rp   2.500
Rp    2.500
Kain flanel
3 lembar
Rp   2.500
Rp    7.500
Gantungan
10 buah
Rp      750
Rp    7.500
Jarum
1  bungkus
Rp   8.000
Rp    8.000
Total
Rp  63.500


Dokumentasi

Proses Pembelajaran

Saat santai

Fandi dan karyanya

Ari dan Karyanya

Esa dan Karyanya

Zogi dan Karyanya

Hasil Pembelajaran


Testimonial

Susi:

Bagi saya, proses belajar-mengajar yang kami lakukan ini sangat menyenangkan. Banyak canda dan tawa haha ^^
Anak-anak juga sangat antusias saat membuat gantungan ini.

Runa:
Ternyata mengajar itu enggak semudah membalikkan telapak tangan. Harus menguasai bahan, harus bisa menarik perhatian peserta didik, harus bisa memotivasi. Waah! harus banyak bisanya. Tapi setelah melewati beberapa kali trial and error, akhirnya paham gimana enaknya mengajar. Waktu dilapangan juga seru, mungkin karena dapat peserta didik yang seru-seru juga dan mereka antusias. Bertambah lagi deh pengalaman. Kereeen !! Seruuu!! Asyiiik!!

Cacek:

Teaching is fun . Mengajar buat saya adalah hal yang menarik dan menyenangkan, apalagi karena materi dan bahan yang kelompok ajarkan termasuk hobby saya, yaitu kerajinan tangan. Awalnya agak ragu apakah anak laki-laki seusia subjek kami tersebut mau diajarkan materi ini, mengingat biasanya kegiatan seperti ini lebih sering dilakukan oleh anak perempuan. Ternyata sebaliknya, mereka sangat antusias mengerjakannya. Puas sekaligus bangga bisa mengajarkan hal-hal yang baru kepada anak-anak.