BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Sunday, December 9, 2012

Tugas Individu


HASIL OBSERVASI SMK TRITECH INFORMATIKA
·         Nama Observer                      : Chairuna Syahputri Nasution
NIM Observer                         : 09.1301.029
·         Kelas                                       : X-TKJ-3 Excutive
·         Mata Pelajaran                       : Pendidikan Agama Islam
Nama Guru                              : Pak Musouri
·         Waktu Observasi                    : 11:48 – 12:05
Durasi Observasi                     : 17 Menit
·         Jumlah Siswa                         : 22 orang
·         Media Pembelajaran             
Guru                                        : Quis (Membacakan soal secara manual)
Siswa                                      : Menjawab pertanyaan (Menggunakan media buku dan alat tulis)
·         Situasi Fisik Kelas                     :o   Ukuran runangan : ± 9m X 6,5m
                                                        o   Kipas angin 2, AC 1
                                                        o   TV LCD
                                                        o   Papan tulis putih (dibawah LCD)
                                                        o   Jam dinding
                                                        o   Meja guru terletak di sudut kanan depan (pandangan observer)
                                                        o   12 Meja siswa (3 kesamping, 4 kebelajang)
                                                        o   Jalan keluar masuk ruangan (tanpa papan pintu)
·         Alat Observasi                       :  o   Kertas tulis
                                                        o   Alat tulis
                                                        o   Handphone (untuk mengambil gambar)



proses belajar mengajar X-TKJ 3 Excutive

        
        A.       Alat Panduan Observasi
Tabel 5.7 (Kaitan antara Tahapan Belajar dengan Peristiwa Pembelajaran)
Deskripsi
Tahapan Belajar
Kegiatan Pembelajaran
Hasil Pengamatan
Keterangan
Persiapan Belajar
1.   Mengarahkan Perhatian
Menarik perhatian siswa dengan menggunakan kejadian tidak seperti biasa
Guru mengarahkan perhatian siswa kepadanya dengan menggunakan bahasa non formal, sehingga siswa merasa akrab dengan sang guru
“Kau, kerjakan itu dengan benar” , “kalau nyontek lagi kau, ku kasi nilai 4”
2.       Ekspektasi

Memberitahukan tujuan pembelajaran

Tidak adanya terjadi proses ini
3. Retrieval untuk dimasukkan keingatan kerja
Merangsang ingatan atas belajar yang telah dipelajari
Memberikan kuis pada akhir pertemuan untuk mengingatkan kembali tentang pelajaran-pelajaran yang sudah dibahas sebelumnya.

Akuisisi dan Kinerja
4.     Persepsi selektif atas ciri stimulus
Menyajikan stimulus dengan ciri yang berbeda
Memberikan soal-soal kuis

5.     Penyandian Semantik
Memberikan bimbingan belajar
Memberikan ingatan kembali dengan cara memberi petunjuk jawaban
“yang kemarin kita pelajarin, pas ....”
6.      Retrieval dan Respon
Memunculkan kinerja
Memunculkan kinerja siswa dengan cara siswa menjawab pertanyaan kuis yang diberikan oleh guru.

7.        Penguatan
Memberikan inofatif


Transfer Belajar
8.       Pemberian Petunjuk retrieval
Menilai perbuatan/kinerja
Menjawab pertanyaan kuis secara bersama-sama, sehingga siswa dapat mengingat kembali jawaban tersebut.

9.       Generalisasi
Memunculkan kinerja dengan contoh baru



                Berdasarkan hasil observasi dengan panduang tabel 5.7 (halaman 199), metode yang diberikan guru sudah hampir memenuhi panduan pada tabel ini. Hanya beberapa yang tidak terpenuhi, karena proses yang terjadi saat di observasi merupakan akhir dari proses belajar yaitu kuis untuk memberikan ingatan kembali kepada siswa, sehingga mereka mudah untuk mengikuti ujian semester.

         B.       Langkah-Langkah Awal dalam Observasi
Tabel 5.6 (Saran Kata Kerja untuk Jenis Belajar)
Kapabilitas
Deskripsi
Informasi
Observer mencari informasi yang akan digunakan dalam proses observasi, yaitu dengan cara membaca buku “Psikologi Belajar, bab 5”, bertanya dengan calon-calon observer yang lain agar mendapatkan informasi yang lebih akurat.
Keterampilan Motorik
·         Sebelum melakukan observasi, observer mencatat panduan yang akan dilakukan agar mempermudah proses observasi
·         Saat Melakukan observasi, Observer memperhatikan sekeliling dengan cepat untuk mendapatkan data awal, karena ketika proses dilakukan dengan tidak cepat, akan kehilangan banyak informasi. Mencatat aktivitas yang dilakukan oleh Guru dan siswa
·         Akhir Observasi, mengambil gambar sebagai bukti observasi. Meninjau ulang data, apakah ada yang tertinggal.
Sikap
Sikap yang diberikan saat observasi, bersikap cuek ketika beberapa siswa memperhatikan adanya “orang asing” yang memperhatikan kegiatan pembelajaran mereka (mungkin sekalian mereka mencontek jawaban kuis).
Siasat Kognitif
Mempersiapkan segalanya untuk proses observasi.
Keterampilan Intelektual
·  Membedakan
·  Konsep
·  Aturan
·  Kaidah Tingkat Tinggi


Testimonial:
                Mengamati proses belajar mengajar yang cukup berbeda dari proses pembelajaran yang diberikan saat saya SMA, membuat wawasan saya berkembang. Ternyata di Medan sudah ada proses pembelajaran yang menggunakan metode E-Learning pada hampir seluruh mata pelajarannya. Namun, karena waktu yang cukup terbatas, sehingga proses observsi tidak dapat berjalan maksimal. Karena untuk menentukan dan mencari kelas yang akan digunakan observasi oleh observer sulit ditentukan, karena untuk kelas 1 saja, mereka memiliki kelas reguler dan eksekutif menghabiskan cukup banyak waktu.
                Dalam proses observasi, kelas sedang menjalankan proses kuis pada akhir mata pelajaran. Setelah proses penilaian kuis, guru meninggalkan kelas. Siswa memanfaatkan waktu tersebut untuk tidur, bermain dengan laptop mereka, bahkan ada yang membuka facebook ataupun twitter. Hampir 15 menit guru keluar, masuk guru berikutnya, dan waktu yang disepakati untuk berkumpul setelah observasi sudah habis.

Wednesday, November 14, 2012

Tugas Individu (Mengkaitkan kasus dengan Teori Gange, Piaget dan Bandura)


Kasus:
"Mengapa mahasiswa psikologi USU yang mengambil mata kuliah psikologi belajar TA 2012/2013 semester ganjil sebahagian besar tidak memberikan tanggapan di grup sehubungan dengan rencana melakukan observasi di lapangan?"
Teori Gagne
Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Gagne bahwa belajar adalah mekanisme yang membuat individu menjadi berfungsi sebagai anggota masyarakat secara kompeten (Gagne, 1977a). Dalam proses belajar, ada sembilan tahapan dalam proses belajar:
   1.   Memperhatikan
   2.   Harapan
   3.   Memori
   4.   Persepsi selektif terhadap stimulus
   5.   Pengkodean semantik
   6.   Pengambilan kembali dan respon
   7.   Penguatan
   8.   Pengambilan petunjuk
   9.   Kemampuan generalisasi
Adapun macam-macam keriteria belajar dan jika dikaitkan dengan kasus adalah:
    ·        Informasi verbal: Informasi yang ditampilkan memang tidak verbal melainkan melalui media online. Banyak mahasiswa yang tidak aktif secara online. Hal ini dapat diakibatkan oleh beberapa hal. Misalnya, ketidak tersediaan sinyal untuk online. Banyaknya tugas yang harus diselesaikan, sehingga tidak sempatnya mahasiswa membuka jejaring sosial facebook (kebanyakan yang ketagihan, dan tidak dapat berhenti bermain di jejaring ini)
       ·        Keterampilan intelektual: Kebanyakna mahasiswa yang sudah memahami maksud dari tugas yang akan dilakukan tersebut. Dan, karena akan dibicarakan kembali di dalam kelas, akan lebih mempermudah mahasiswa melakukan tanya jawab secara langsung.
      ·        Keterampilan motorik: Keterampilan motorik  (keaktifan) ini yang mungkin kurang dalam kasus ini. Hal ini mungkin terjadi karena sudah adanya postingan yang mirip yang akan di berikan, agar tidak terjadinya pertanyaan ganda akan hal tersebut.
       ·        Sikap
       ·        Strategi kognitif: pemberitahuan terhadap tugas ini pada saat proses ujian, mengakibatkan mahasiswa memfokuskan diri pada ujian yang sedang berlangsung.

Teori Piaget
Teori Piaget berpendapatan konstruktivis tentang Kecerdasan, bahwa adanya perbedaan antara pandangan tradisional yang mengatakan bahwa pandangan tradisional tentang belajar itu keliru. Psikolog dan pendidik mendeskripsikan pengetahuan sebagai beberapa entitas diluar objek dan peristiwa yang terdiri dari informasi objektif statis tentang dunia nyata. Karena, individu dan lingkungan dapat diposahkan secara ilmu pengetahuan.
Menurut Piaget, kecerdasan adalah aktif, dinamis dan senantiasa berubah. Seiring berjalannya waktu dan usia, kecerdasan seseorang akan terus berkembang. Dan adapun faktor-faktor esensial dalam perkembangan kognitif yang berupa lingkungan fisik, kematangan, pengaruh sosial dan proses. Karena perkembangan kecerdasan itu aktif, mahasiswa yang telah melewati berbagai faktor esensial tersebut mengalami perkembangan kecerdasan kognitif. Sehingga mahasiswa yang membaca akan postingan tersebut namun tidak memberikan komentar akan postingan tersebut, bisa dikarenakan tugas yang diposting telah dipahami dengan baik. Dan menunggu proses yang akan dilaksanakan secara detail melalui diskusi yang akan dilakukan didalam kelas.

Teori Bandura
Menurut teori Bandura, proses belajar dapat berlangsung melalui proses pengamatan perilaku yang ditampilkan oleh orang lain yang dianggapnya percaya. Proses belajar dapat:
    a.   Mengabstraksi rangkaian informasi dari pengamatan perilaku orang lain.  Karena banyaknya mahasiswa yang tidak memposting komen, maka adanya proses pembelajaran yang didapat disini. Modelling.
    b.   Membuat keputusan tentang perilaku untuk diadopsi dan diberlakukan. Ketiak dikaitan dengan kasus, mengamati perilaku yang lain yang memposting komen yang dianggap berbobot(misalnya: tentang waktu) dan memenuhi atau mewakili pertanyaak ataupun pendapat yang akan disampaikan oleh mahasiswa lainnya..

Thursday, October 25, 2012

Tugas Ujian Tengan Semester


KELOMPOK 13:



PEMBELAJARAN
Hal yang mendasar dari teori kognitif sosial Bandura adalah manusia cukup fleksibel mempelajari beragam kecakapan bersikap maupun berperilaku, dan pembelajaran terbaik dari semua ini adalah pengalaman-pengalaman tak terduga (vicarious experiences).

Pembelajaran dengan Mengamati (Observational Learning)
Bandura yakin bahwa tindakan mengamati merupakan belajar tanpa berbuat apa pun. Teori kognitif sosial adalah manusia belajar dengan mengamati perilaku orang lain.
Pembelajaran manusia yang utama adalah dengan mengamati model-model, dan pengamatan inilah yang terus-menerus diperkuat. Bandura (1986, 2003) yakin bahwa pembelajaran dengan mengamati jauh lebih efisien daripada pembelajaran dengan mengalami langsung.

Pemodelan
Inti pembelajaran dengan mengamati adalah pemodelan (modelling). Yaitu, pemodelan melibatkan proses-proses kognitif, jadi tidak hanya meniru, lebih dari sekedar menyesuaikan diri dengan tindakan orang lain karena sudah melibatkan perepresentasian informasi secara simbolis dan menyimpannya untuk digunakan di masa depan.
Empat proses yang mengatur pembelajaran dengan mengamati:
1.        Perhatian
2.        Representasi
3.        Produksi Perilaku
4.        Motivasi

Pembelajaran dengan Bertindak (Enactive Learning)
Bandura yakin bahwa perilaku yang kompleks dapat dipelajari ketika manusia memikirkan dan mengevaluasi konsekuensi-konsekuensi dari perilaku tersebut. Konsekuensi-konsekuensi sebuah respons memiliki tiga fungsi. Pertama, konsekuensi-konsekuensi respons menginformasikan efek-efek tindakan. Kedua, konsekuensi-konsekuensi respons memotivasi perilaku antisipatif. Ketiga, konsekuensi respons-respons memperkuat perilaku. Bandura (1986) yakin bahwa meskipun penguatan sering kali tidak disadari dan bekerja otomatis namun, kognitif juga mempengaruhi pola-pola perilaku. Dia yakin bahwa pembelajaran jauh lebih efisien ketika pembelajar secara kognitif terlibat di dalam situasi pembelajaran dan memahami perilaku mana yang dapat menghasilkan respons-respons yang tepat.

 Diperoleh melalui model social. Efikasi akan meningkat ketika mengamati keberhasilan orang lain,sebaliknya efikasi akan menurun jika mengamati orang yang kemampuannya kira-kira sama dengandirinya ternyata gagal. Kalau figure yang diamati berbeda dengan diri sipengamat, pengaruh vikarius tidak besar. Sebaliknya ketika mengamati kegagalan figure yang setara dengan dirinya,bisa jadi orang tidak mau mengerjakan apa yang pernah gagal dikerjakan figur yang diamatinya itudalam jangka waktu yang lama. Penguatan Vikarius (vicarious reinforcement)adalah ketika mengamati orang lain yang mendapatpenguatan, membuat orang ikut puas dan berusaha belajar gigih agar menjadi seperti orangitu

Alat yang digunakan :
      1.      Laptop
      2.      Proyektor
      3.      Kertas origami
      4.      Speaker
      5.      Doubel tape
      6.      Gunting
      7.      Kertas HVS

Proses Pembelajaran
Dilakukanlah beberapa proses pembelajaran berdasarkan alat yang tersedia diatas:
      1.      Menunjukkan video yang berisikan teknik pembuatan seni origami.
      2.      Membagikan kertas origami ke peserta
      3.      Peragaan pembuatan seni origami dari konseptor
      4.      Peserta memodeling pembuatan seni origami
      5.      Konseptor menilai hasil kreativitas terbaik dan memberikan reward kepada pemenang
      6.      Mengulang proses no 1,2,3, 4, dan 5 dengan teknik pembuatan origami yang berbeda
      7.      Salah satu peserta diminta komentar dari hasil pembelajaran
      8.      Kemudian konseptor menjelaskan pembelajaran bandura

Pembahasan
Berdasarkan proses pembelajaran diatas ini bila dihubungkan dengan proses pembelajaran Bandura yaitu:
-          Tahapan pertama dan kedua merupakan tahap perhatian yang mana individu mengamati figur-figur yang menjadi subjek perilaku.
-          Tahapan ketiga merupakan representasi: agar pengamatan dapat membawa kita kepada pola-pola respons yang baru, pola-pola tersebut harus direpresentasikan secara simbolis di dalam memori
-          Tahapan keempat adalah produksi perilakusetelah memberi perhatian kepada sebuah model dan mempertahankan apa yang sudah diamati, kita akan menghasilkan perilaku. Untuk mengubah representasi kognitif menjadi tindakan yang tepat, kita harus menanyakan pada diri sendiri beberapa pertanyaan tentang perilaku yang dijadikan model.
-          Pada tahapan selanjutnya adalah sebagai penumbuhan motivasi karena pembelajaran berikutnya lebih efektif bila termotivasi.
-          Pemberian reward pada yang berhasil merupakan penguatan vicarious. Jadi peserta yang sukses perilakunya menjadi sumber motivasi teman-teman untuk memodellingnya menjadi perilaku sukses juga.

Wednesday, October 24, 2012

Tugas Individu Kognitif 1



Ringkasan:
Teknologi informasi, komputer merupakan media penyampaian pembelajaran yang efektif. Peneliti memberikan instruksi pada designer animasi
(animator) menggunakan beberapa cara (“diagram dan teks visual”, “diagram dan teks audio”, diagram dan audio visual text”, dan “diagram” saja). Dalam proses pemberian instruksi, terdapat suatu proses, yaitu proses penerimaan informasi. Pemrosesan infomasi ini yang menjadi pokok penelitian peneliti, memori yang digunakan dari hasil pembelajaran.

Review Jurnal Kognitif
Pemrosesan informasi membahas langkah-langkah dasar yang diambil individu untuk memperoleh, menyajikan, dan mengingat informasi. Pertama, pemrosesan informasi bukan konseptualisasi dari teoritis seseorang. Karena ada banyak macam deskripsi tentang cara memori menyimpan informasi. Kedua, karena dasar dari teori ini adalah pemrosesan informasi dan bukan belajar, teori ini tidak dapat menspesifikasikan hasil belajar. Komponen esensial dari belajar adalah pengorganisasian informasi yang akan dipelajari, pengetahuan sebelumnya yang sudah dikuasai, dan proses pemahaman, pengertian, serta menyimpan dan mengambil informasi kembali.

Dalam jurnal menceritakan bahwasanya dalam penerimaan informasi memiliki bermacam-macam cara. Audio, Visual, Kinestetik. Audio, seseorang dapat menerima informasi yang berasal dari suara. Visual, seseorang menggunalan mata mereka untuk menerima suatu informasi. Kinestetik, seseorang memperoleh informasi ketika ia menyentuh benda yang memiliki informasi tersebut. Tiap orang berbeda dalam proses penerimaan informasi ini.

Jaringan koneksionis. Dalam model sekarang, pengetahuan disimpan dalam jaringan koneksi(link) yang juga memodulasi transfer aktivitas dari unit ke unit selanjutnya (Schreider&Graham, 1992). Pengembangan model koneksionis, menekankan banyak aktivitas seperti menginterpretasikan bahasa, membutuhkan proses informasi dari beberapa sumber sekaligus.

          Dalam penelitian pada jurnal, peneliti melakukan penelitian menggunakan teori jaringan koneksionis. Hal ini dapat diketahui ketika peneliti memberikan instruksi untuk membuat design dengan cara “diagram dan teks visual”, “diagram dan teks audio”, diagram dan audio visual text”, dan “diagram” saja. Peneliti menggunakan eksperimen ini untuk menentukan/mendapatkan hasil penelitian bahwasanya proses pembelajaran yang cepat dengan menggunakan tekhnik apa. Dari hasil penelitian, ternyata individu yang mendapatkan instruksi secara “diagram dan audio visual text” lebih cepat memproses informasi tersebut.

            Representasi pengetahuan dalam memori jangka panjang memiliki beberapa tahap. 1.) Model kode ganda. Mendeskripsikan dua sistem, yang secara fungsional independen namun saling terkait untuk menyimpan dan memproses informasi. 2.) Pengetahuan deklaratif. Dapat didiskusikan dan bersifat deskripsi. Dan memberikan kontribusi memori semantik dan episodik. 3.) Pengetahuan prosedural, merupakan pengetahuan tentang cara melakukan tugas atau aktivitas tertentu.

          Dalam proses pengkodean dalam penelitian ini menggunakan pengkodean ganda, yaitu memiliki sistem pengolahan informasi yang berbeda. Audio secara verbal dan yang lainnya secara visual (Solso, 1998). Ketika dalam proses penyimpanan, dalam hal ini informasi yang diterima dalam bentuk kata-kata akan diterima dalam bentuk verbal, sedangkan dalam bentuk gambar (diagram) akan disimpan dalam bentuk visual. Integrated dual-code menunjukkan bahwa informasi visual dan informasi verbal dapat diterima dalam memori sama dengan hubungan antar informasi verbal dan informasi visual. 

Wednesday, October 10, 2012

Proses Pembelajarn dengan Teori Skinner


Proses pembelajaran psikologi belajar hari ini, kami diberikan penguatan sekunder, yaitu penguatan melalui asosiasi dengan kejadian yang telah berfungsi sebagai penguat. Diberikan 3 stimulus, sertifikat, kertas HVS, dan Karton kecil. Merupakan stimulus yang diberikan untuk menciptakan suatu kreativitas. Dengan kondisi yang dibuat seolah ujian.
Saya menuliskan nama pada sertifikat tersebut. Dan, membuat informasi yang saya ketahui dari tema yang tertera pada sertifikat tersebut pada kertas HVS. Karton kecil saya gunakan sebagai alas untuk menulis dan sebagai penggaris.
Ketika mendapatkan satu ide untuk membuat sesuatu, merupakan reinforcement positif sehingga adanya keinginan untuk membuat sesuatu lagi untuk 3 stimulus lainnya. Namun, karena waktu yang cukup terbatas, kreativitas saya tidak begitu keluar, maka hasilnya pun tidak maksimal.
Saat akhir pembelajaran, teman-teman yang memiliki nilai tinggi mendapatkan hadiah. Hadiah ini lah yang biasanya dalam teori Skinner sebagai reinforcemen positive, yaitu penguat agar hal yang diinginkan dapat terus berlanjut.





Tugas Individu (Teori Skinner + Pengalaman)


PENGALAMAN:

Saat SMA, aku menyukai pelajaran komputer. Yah, sebenarnya karena dari kecil sudah dihadapkan dengan komputer, sering menyepelekan segala sesuatunyayang berhubungan dengan komputer. Kalau ada tugas yang berhubungan dengan komputer, sering dikerjakan 3 jam sebelum masuk pelajaran itu (saat istirahat) atau saat sudah di ruangan komputer saat akan penilaian (Karena nama dari ‘C’, dan yang nama dari ‘A’ banyak). Selama ini sih perkembangan nilainya baik-baik saja, rata-rata diatas 9.

Suatu waktu, ada tugas mendesign dengan powerpoint. Saat akan penilaian, baru mulai mengerjakan tugas itu. Namun, karena kurang paham menggunakan powerpoint, mengakibatkan pembuatan menjadi lambat. Sehingga tugasnya hanya sedikit yang terselesaikan. Perasaan tidak enak akan tugas yang belum selesai, di tambah dengan komentar guru yang membuat semakin tidak nyaman,”lho? Kamu belum siap? Hahahhaa. Saya kira kamu pasti siap. Ternyata kamu tidak sehebat yang saya kira”.

Sejak saat itu, saya tidak mau lagi mengerjakan tugas secara mendadak. Dan takut untuk menyepelekan tugas.


ANALISIS dengan TEORI BELAJAR SKINNER:

          Kebiasaan buruk yang menyelesaikan tugas secara mendadak, yang awalnya terus-terusan mendapatkan reinforcemen positive (nilai yang baik), suatu hari kegagalan dalam penyelesaian tugas dan komentar guru yang membuat menjadi tidak nyaman, merupakan reinforcemen negative. Sehingga merubah kebiasaan mengerjakan tugas dengan cara dadakan.

          Hal ini sama dengan teori yang dikemukakan oleh Skinner, yang menyatakan bahwa perilaku dapat dimunculkan dengan pemberian reinforcemen positive, dan dapat dikurangi dengan cara reinforcemen negative, dan dapat juga dihilangkan denga cara punishment terhadap hal yang tidak disukai.

Monday, October 8, 2012

Kritik dan Proses Belajar Pertemuan Kedua


KELOMPOK 13:



         Perkuliahan di mulai pukul 10.45. Kami menonton film ‘Kinky Boots’, yang menceritakan tentang proses belajar seorang pengusaha sepatu. Saat akan mulai dan selama pertunjukkan, kami mengalami beberapa gangguan, yaitu:

    1.     Sound System yang tidak tersedia di dalam ruangan. Sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama dalam mempersiapkannya.

     2.     Ketika pertunjukkan mulai, suara dari film tersebut tidak begitu jelas (mungkin karena kami duduk dekat speaker, atau karena mereka yang terlalu cepat berbicara, atau speaker yang kurang baik)

    3.     Di pertengahan pertunjukkan, laptop mengalami gangguan, sehingga film pun terhenti di tengah cerita. Dan ketika hendak mengganti laptop, laptop cadangan yang tidak tersambung pada proyektor.

          Dari beberapa insiden di atas, kami juga mendapatkan pembelajaran. Bahwasanya:
    1.     Seperti dalam teori umum proses belajar (BAB I), kita seharusnya belajar dari pengalman (teori kognitif). Dalam ruangan belajar yang kami masuki, tidak semuanya memiliki sound system yang baik. Sebaiknya, sebelum pertunjukkan dimulai mengecek semua perlengkapan yang dibutuhkan.

   2.     Berdasarkan teori Gestalt, yang mengajarkan bahwa kita seharusnya peka terhadap lingkungan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, maka sebaiknya kita mempersiapkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Ketika laptop pertama padam, dan tersedianya laptop cadangan membuat proses pembelajaran sedikit tertolong, namun kondisi proyektor yang tidak dapat tersambung dengan laptop, mengakibatkan pertunjukkan tidak dapat dilanjutkan.