BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Thursday, March 21, 2013

Kuliah Online


Hari ini (11 Maret 2013) kuliah online. Tadi malam heboh belajar pakai Gtalk.  Jaringannya payah laah buat sinyal ilang timbul-ilang timbul. Gitu pada timbul, invite orang, katanya “not support”. Mulai panik, bingung. Karna biasanya di invite-in, sekarang di suruh meng-invite, kok susah yaah??

Dari proses yang susuah itu jadi belajar untuk bisa. Kalau dalam istilah psikologinya ”trial and error”, karena di coba terus tapi masi gagal, di coba lagi, gagal lagi. Cari di google cara gtalk group. Di coba caranya, katanya masi not support L . Pas midnight di coba lg, jaringannya muluuus. Teman-teman langsung dengan mudah ter-invite. Oke, tryout nya berhasil.

Pas di hari H nya. Waaahh!! Sinyalnya mulai hilang timbul gak karuan. Payah bilang laa.. Untuk invite teman-teman kira-kira butuh waktu 1 jam. Gegara sinyal juga nii. Tapi, setelah semua terhubung, semuanya jadi lancar deeh. Kuliah online dapat segera berlangsung..

Berikut Cara Buat Gtalk Group:
Dari pengalaman saya yaah...

     1.     Ketik “Gmail.com” pada bagian search engine.

              
    2.    Masukkan username dan password-nya (sebelumnya harus daftar dulu)

             
     3.    Pastikan menggunakan Gmail Standar (jangan yang bassic)

  Tampilan untuk yang standar

     4.    Lihat bagian sisi kiri email (di bawah inbox, draft, sent, dll) ada kolom chatting. Pilih    salah satu teman yang akan di chatting group (tapi pastikan emang online yah..)
    5.    Setelah itu keluar layar kecil di sisi kanan bawah. Dari situ kita bisa chatting personal dengan teman.
    6.        Kalau mau buat dalam group. Di layar kecil chating, di kanan atasnya ada tanda panah miring kanan tanda itu untuk me-restore up layar (membesarkan layar)

             
     7.    Setelah layar di besarkan. Di sebelah kanan atas ada logo (orang+) dan tulis nama yang akan di-invite (pastikan kembali teman tersebut memang ON)
     8.    Untuk orang berikutnya, lakukan seperti hal tersebut lagi.

          
     9.    Gtalk Group siap di pergunakan... J

Bagaimana? Ngertikan caranya??
Tapi kalau belum paham, bisa di lihat di web lainnya yaah.. Nih aku kasi juga linknya, biar mempermudah.. J

Tuesday, March 5, 2013

Bagian 2: Mengajar, Ahli Pedagogi, dan Paradigma Belajar




Saat membaca buku Paedagogi (Danim dan Khairil, 2010) di Bagian 2, ada tentang menginspirasi siswa. Kegiatan mengajar yang unggul dipandang sebagai proses akademik, dimana siswa termotivasi belajar secara berkelanjutan, substansial, dan positif terutama berkaitan dengan bagaimana mereka berfikir, bertindak dan merasa. Keunggulan ini juga bermakna suatu proses  yang dapat mengangkat proses motivasi pada siswa.

Hal ini mungkin sering terjadi pada kita. Seorang guru memberikan pujian kepada kita, agar kita menjadi termotivasi lagi dalam melakukan suatu hal yang lebih baik, atau mungkin saat kita susah payah belajar, kita mendapatkan hasil yang memuaskan. Hal ini dapat juga dikaitkan dengan teori classical learning (reward dan punishment). Dimana kita mendapatkan respon baru setelah diberikan stimulus-stimulus baru.

Saat saya kelas 3 SMA, saat mata pelajaran ilmu komputer. Kami diberikan tugas untuk membuat ‘hyperlink’ seperti di website. Awalnya, mengerjakan tugas itu hanya untuk menyelesaikan tugas dan dapat nilai, tidak ada hal spesial yang diharapkan. Karena menurut saya saat itu, ini hanyalah tugas seperti biasa yang diberikan guru.

Saat penilaian, ada beberapa orang anak yang ditanya mau nilai berapa untuk nilai tugas ini. Ya, karena mereka menyelesaikan tugas mereka dengan baik. Tiba saat penilaian tugas saya, guru hanya menyuruh “coba klik yang atas”, saat saya klik langsung muncul bagian yang saya inginkan. Sang guru senyum dan mengatakan kepada teman-teman yang lain “liat ini, si Runa udah selesai tugasnya, sangat bagus! Kamu saya kasi nilai sempurna untuk tugas ini”. Saya hanya tersenyum dan malu-malu akan hal itu.

Setelah saat itu, saya sangat semangat dalam mengerjakan tugas-tugas apalagi bidang komputer. Dan hasilnya, saat pembagian rapot, benar saja nilai tertinggi saya salah satunya komputer. Hingga akhirnya saya berangan dan memantapkan keputusan untuk kuliah mengambil jurusan Tekhnik Informatika (meskipun sepenuhnya bukan karena hal itu).

Omongan, pujian, celaan sebenarnya adalah suatu motivasi yang diberikan oleh seseorang kepda kita, tinggal gimana kita menaggapi perkataan orang tersebut. Untuk menginspirasi siswa, ada banyak cara. Namun, untuk menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya sebaiknya guru harus memiliki berikut, karena berdasarkan hasil kajian, guru yang unggul memiliki karakteristik sebagai berikut:

 

Thursday, February 28, 2013

Artzooka!

Kalau yang punya TV Kabel dan berlangganan Nickelodeon, pasti gak asing dengan acara Artzooka!. Aku salah satu penggemar acara ini. Di sini kita di ajarin menjadi kreatif loo.. Memanfaatkan barang-barang bekas, mendesign sesuatu menjadi sesuatu yang unik, dan yang spesial lagi, pembawa acara yang lumayan ganteng <3 div="">

Berikut salah satu cuplikan yang menarik buat dipelajari. Sambil ajak adik bermain, ato buat boneka kucing-kucingan dari steyofom.. :D




Gimana?? Mau ikutan buat?? Ayo ajakin adek-adek kecil kita untuk buat. Kan seru sekalian melatih imajinasi mereka, juga kita pastinya!!:D

Bagian 1: Seni dan Ilmu Mengajar



Saat membaca mengenai Seni dan Ilmu mengajar, yang terbayang di pikiran saya adalah proses belajar pada anak-anak. Karena untuk mengajarkan kepada anak-anak kita haruslah kreatif untuk menarik perhatian mereka. Berikut adalah pengalaman saya saat sedang liburan yang berhubungan dengan seni mengajar. J

Saat liburan ke Jakarta, saya menginap di rumah saudara di kawasan Duren Sawit. Lingkungannya lebih mirip perkampungan, namun rumah saudara saya yang besar daerah itu dibandingkan dengan rumah-rumah lainnya. Suasananya nyaman, tenang.

Pagi hari, sekitar pukul 9.00, banyak anak-anak usia balita datang ke rumah saudara saya dengan Ibunya. Mereka membawa tas ransel kecil, sepatu lucu. Lucu deh... Tapi karena saya baru sehari, saya gak mengerti kenapa banyak anak-anak datang ke rumah itu. Ternyata setelah saya lihat-lihat, ternyata Tante saya dengan teman-teman Dharma Wanitanya membuat TK gratis buat anak-anak daerah situ.

Jumlah siswa yang ikut berpartisipasi ada 12 orang dengan guru pengampu 3 orang. Sekolah dilakukan 3 kali seminggu, dengan durasi belajar hanya 3 jam. Anak-anak belajar berbaris, menyanyi, menari, menggambar, semua hal-hal yang menyenangkan mereka lakukan.

Saat kelihatannya mereka sedang bosan, atau waktu belajar lebih cepat dari yang dijadwalkan, guru-gurunya memberikan permainan namun memberikan pelajaran kepada mereka. Sehingga mereka dapat terus belajar sambil bermain. Karena proses pembelajarannya pun sangat menyenangkan, Anak-anak belajar dengan semangat dan riang. Ada hal yang saya perhatikan, ketika ada pertanyaan mereka berebut menjawab, dan yang menjawab mendapatkan pujian dari sang guru. Setelah mereka dipuji, mereka melirik ke Ibunya, dan Ibunya membalas dengan tersenyum, dan hal itu membuat anak menjadi semakin semangat.

Monday, February 25, 2013

Tugas 1 (Pedagogi)


A : “Pedagogi itu apa sih?”
B: “Pedagogi itu teknik belajar pada anak-anak.”
A: “Kalau Andragogi??”
B: “Andragogi untuk orang dewasa”

Saya pernah mendengar secara langsung percakapan di atas. Yaah, kalau jawaban singkatnya yah seperti percakapan di atas itu. Bahwa Pedagogi itu tekhnik kita mendidik/mengajar anak-anak. Untuk memastikannya, saya mencari pengertian itu melalui mbah google. Ternyata, untuk pengertian pedagogi itu sendiri cukup banyak.  Berikut ada beberapa pengertian pedagogi yang saya dapat dari sang ‘Mbah’:


  •   Pedagogi adalah Bimbingan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak atau orang lain yang belum dewasa, disebut pendidikan (pedagogik). Setelah itu pedagogik berarti suatu usaha yang dijalankan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi seseorang atau sekelompopk orang lain menjadi dewasa atau tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi. 

  •     Bagi pendidik, istilah ini pasti sudah tidak asing lagi, dan ilmunya menjadi sebuah acuan dalam praktek mendidik anak. Jika dilihat dari segi istilah, pedagogik sendiri berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu paedos (anak) dan agogos (mengantar, membimbing, memimpin). Dari dua istilah diatas timbul istilah baru yaitu paedagogos dan pedagog, keduanya memiliki pengertian yang hampir serupa, yaitu sebutan untuk pelayan pada zaman Yunani kuno yang mengantarkan atau membimbing anak dari rumah ke sekolah setelah sampai di sekolah anak dilepas, dalam pengertian pedagog intinya adalah mengantarkan anak menuju pada kedewasaan. Istilah lainnya yaitu Paedagogia yang berarti pergaulan dengan anak, Pedagogi yang merupakan praktek pendidikan anak dan kemudian muncullah istilah Pedagogik yang berarti ilmu mendidik anak.

Selain pengertian-pengertian di atas, masi banyak lagi pengertian lainnya. Namun, inti dari semuanya tetaplah sama, yakni cara mengajari anak-anak untuk belajar. Proses belajar, tidak hanya terjadi di sekolah, di dalam kelas. Tetapi, di rumah pun juga dapat terjadi proses belajar.

Mengajar merupakan seni dan ilmu mentransformasikan bahan ajar kepada peserta didik pada situasi dan dengan media tertentu. Ilmu mengajar, dapat dipelajari dimanapun, kapanpun; individu maupun kelompok. Seni mengajar terlihat ketika terjadinya interaksi pembelajaran berlangsung. Seni mengajar tidak mungkin dapat kita jumpai dalam proses alami kehidupan alam organik.

Untuk memotivasi sang anak (siswa), seorang guru hendaknya mampu menangkap pikiran dan hati sang anak, memotivasi anak untuk belajar, menata lingkungan yang edukatif, membangun keaktifan belajar, dan memfasilitasi peluang besar. Proses seperti ini merupakan hubungan dua arah. Guru memberi dan siswa menerima bantuan dan bimbingan.

Dalam proses pembelajaran, kita (sebagai guru) dituntut untuk memiliki karakterisik pribadi yang cerdas, jujur, disiplin, penyayang, integritas, antusias, motif, komitmen, dan kesatria. Keahlian berkomunikasi dengan anak (siswa) juga sangat penting untuk menarik (memotivasi) sang anak (siswa). Dalam proses di dalam kelas, seorang pengajar (guru) harus memiliki persiapan, terorganisasi, konsisten, etika kerja, kecepatan, fleksibel, dan dialog interaktif, serta memiliki lingkungan belajar yang ‘santai’ dan terbuka untuk perubahan pengaturan agar tidak kaku.

Karakteristik dan tampilan di kelas, ada dan tidak dilakukan dalam dunia nyata, misalnya:

Berdasarkan Teori
Di kehidupan nyata
Penyayang
Saat saya masi sekolah SD, seorang guru terus mengajarkan kepada siswa yang belum paham akan materi yang di ajarkan dengan sabar.
Antusias dan komitmen
Saya pernah mengikuti suatu pembelajaran tentang komunikasi yang efektif. Namun, sang pembicara tidak menunjukkan hal itu. Pembicara berbicara sambi duduk dan malas.
Kecepatan dan Etika Kerja
Saat saya SMP, ada seorang guru yang pintar, namun memiliki etika kerja yang kurang baik. Masuk ke kelas sering terlambat, setelah di kelas memberikan materi dan tugas, setelah itu beliau tidur sambil duduk.
Ada pula guru yangdatang ke kelas terlambat, dan keluar lebih cepat (sebelum bel berbunyi)
Dialog Interaktif: pembelajaran dua arah
Masih dengan guru yang “tidur”, beliau memberikan jawaban akan tugas tersebut, tidak dengan cara interaktif 2 arah, beliau seolah hanya mengerjakan jawaban tersebut untuk dirinya sendiri, bukan untuk para siswa.
Sikap Fleksibel : terbuka atas ide, saran dan wawasan
Saat saya SMP, saya juga melakukan privat bahasa inggris dengan salah satu guru di sekolah tersebut, beliau memberikan pengajaran yang akan dipelajari esok harinya. Esok harinya, dengan guru yang berbeda dengan materi yang sama, ternyata guru privat memberikan pembelajaran yang sedikit ‘khilaf’, kepada saya, namun saya ngotot dengan apa yang saya pelajari tadi malamnya(dengan guru privat), sang guru memberikan pengetahuan lebih lengkap dan jelas kepada saya, san ternyata guru sekolah lah yang benar.
Jujur
Pengajar seperti ini sering saya temui. Ketika ada siswa yang bertanya mengenai suatu materi, tetapi beliau tidak tau jawabannya, beliau akan meminta waktu untuk mencari akan jawaban tersebut, dan disampaikan kepada siswa di pertemuan berikutnya.


Referensi:
Danim, Sudarwan, Khairil. 2010. Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta