BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Tuesday, March 5, 2013

Bagian 2: Mengajar, Ahli Pedagogi, dan Paradigma Belajar




Saat membaca buku Paedagogi (Danim dan Khairil, 2010) di Bagian 2, ada tentang menginspirasi siswa. Kegiatan mengajar yang unggul dipandang sebagai proses akademik, dimana siswa termotivasi belajar secara berkelanjutan, substansial, dan positif terutama berkaitan dengan bagaimana mereka berfikir, bertindak dan merasa. Keunggulan ini juga bermakna suatu proses  yang dapat mengangkat proses motivasi pada siswa.

Hal ini mungkin sering terjadi pada kita. Seorang guru memberikan pujian kepada kita, agar kita menjadi termotivasi lagi dalam melakukan suatu hal yang lebih baik, atau mungkin saat kita susah payah belajar, kita mendapatkan hasil yang memuaskan. Hal ini dapat juga dikaitkan dengan teori classical learning (reward dan punishment). Dimana kita mendapatkan respon baru setelah diberikan stimulus-stimulus baru.

Saat saya kelas 3 SMA, saat mata pelajaran ilmu komputer. Kami diberikan tugas untuk membuat ‘hyperlink’ seperti di website. Awalnya, mengerjakan tugas itu hanya untuk menyelesaikan tugas dan dapat nilai, tidak ada hal spesial yang diharapkan. Karena menurut saya saat itu, ini hanyalah tugas seperti biasa yang diberikan guru.

Saat penilaian, ada beberapa orang anak yang ditanya mau nilai berapa untuk nilai tugas ini. Ya, karena mereka menyelesaikan tugas mereka dengan baik. Tiba saat penilaian tugas saya, guru hanya menyuruh “coba klik yang atas”, saat saya klik langsung muncul bagian yang saya inginkan. Sang guru senyum dan mengatakan kepada teman-teman yang lain “liat ini, si Runa udah selesai tugasnya, sangat bagus! Kamu saya kasi nilai sempurna untuk tugas ini”. Saya hanya tersenyum dan malu-malu akan hal itu.

Setelah saat itu, saya sangat semangat dalam mengerjakan tugas-tugas apalagi bidang komputer. Dan hasilnya, saat pembagian rapot, benar saja nilai tertinggi saya salah satunya komputer. Hingga akhirnya saya berangan dan memantapkan keputusan untuk kuliah mengambil jurusan Tekhnik Informatika (meskipun sepenuhnya bukan karena hal itu).

Omongan, pujian, celaan sebenarnya adalah suatu motivasi yang diberikan oleh seseorang kepda kita, tinggal gimana kita menaggapi perkataan orang tersebut. Untuk menginspirasi siswa, ada banyak cara. Namun, untuk menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya sebaiknya guru harus memiliki berikut, karena berdasarkan hasil kajian, guru yang unggul memiliki karakteristik sebagai berikut:

 

Thursday, February 28, 2013

Artzooka!

Kalau yang punya TV Kabel dan berlangganan Nickelodeon, pasti gak asing dengan acara Artzooka!. Aku salah satu penggemar acara ini. Di sini kita di ajarin menjadi kreatif loo.. Memanfaatkan barang-barang bekas, mendesign sesuatu menjadi sesuatu yang unik, dan yang spesial lagi, pembawa acara yang lumayan ganteng <3 div="">

Berikut salah satu cuplikan yang menarik buat dipelajari. Sambil ajak adik bermain, ato buat boneka kucing-kucingan dari steyofom.. :D




Gimana?? Mau ikutan buat?? Ayo ajakin adek-adek kecil kita untuk buat. Kan seru sekalian melatih imajinasi mereka, juga kita pastinya!!:D

Bagian 1: Seni dan Ilmu Mengajar



Saat membaca mengenai Seni dan Ilmu mengajar, yang terbayang di pikiran saya adalah proses belajar pada anak-anak. Karena untuk mengajarkan kepada anak-anak kita haruslah kreatif untuk menarik perhatian mereka. Berikut adalah pengalaman saya saat sedang liburan yang berhubungan dengan seni mengajar. J

Saat liburan ke Jakarta, saya menginap di rumah saudara di kawasan Duren Sawit. Lingkungannya lebih mirip perkampungan, namun rumah saudara saya yang besar daerah itu dibandingkan dengan rumah-rumah lainnya. Suasananya nyaman, tenang.

Pagi hari, sekitar pukul 9.00, banyak anak-anak usia balita datang ke rumah saudara saya dengan Ibunya. Mereka membawa tas ransel kecil, sepatu lucu. Lucu deh... Tapi karena saya baru sehari, saya gak mengerti kenapa banyak anak-anak datang ke rumah itu. Ternyata setelah saya lihat-lihat, ternyata Tante saya dengan teman-teman Dharma Wanitanya membuat TK gratis buat anak-anak daerah situ.

Jumlah siswa yang ikut berpartisipasi ada 12 orang dengan guru pengampu 3 orang. Sekolah dilakukan 3 kali seminggu, dengan durasi belajar hanya 3 jam. Anak-anak belajar berbaris, menyanyi, menari, menggambar, semua hal-hal yang menyenangkan mereka lakukan.

Saat kelihatannya mereka sedang bosan, atau waktu belajar lebih cepat dari yang dijadwalkan, guru-gurunya memberikan permainan namun memberikan pelajaran kepada mereka. Sehingga mereka dapat terus belajar sambil bermain. Karena proses pembelajarannya pun sangat menyenangkan, Anak-anak belajar dengan semangat dan riang. Ada hal yang saya perhatikan, ketika ada pertanyaan mereka berebut menjawab, dan yang menjawab mendapatkan pujian dari sang guru. Setelah mereka dipuji, mereka melirik ke Ibunya, dan Ibunya membalas dengan tersenyum, dan hal itu membuat anak menjadi semakin semangat.

Monday, February 25, 2013

Tugas 1 (Pedagogi)


A : “Pedagogi itu apa sih?”
B: “Pedagogi itu teknik belajar pada anak-anak.”
A: “Kalau Andragogi??”
B: “Andragogi untuk orang dewasa”

Saya pernah mendengar secara langsung percakapan di atas. Yaah, kalau jawaban singkatnya yah seperti percakapan di atas itu. Bahwa Pedagogi itu tekhnik kita mendidik/mengajar anak-anak. Untuk memastikannya, saya mencari pengertian itu melalui mbah google. Ternyata, untuk pengertian pedagogi itu sendiri cukup banyak.  Berikut ada beberapa pengertian pedagogi yang saya dapat dari sang ‘Mbah’:


  •   Pedagogi adalah Bimbingan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak atau orang lain yang belum dewasa, disebut pendidikan (pedagogik). Setelah itu pedagogik berarti suatu usaha yang dijalankan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi seseorang atau sekelompopk orang lain menjadi dewasa atau tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi. 

  •     Bagi pendidik, istilah ini pasti sudah tidak asing lagi, dan ilmunya menjadi sebuah acuan dalam praktek mendidik anak. Jika dilihat dari segi istilah, pedagogik sendiri berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu paedos (anak) dan agogos (mengantar, membimbing, memimpin). Dari dua istilah diatas timbul istilah baru yaitu paedagogos dan pedagog, keduanya memiliki pengertian yang hampir serupa, yaitu sebutan untuk pelayan pada zaman Yunani kuno yang mengantarkan atau membimbing anak dari rumah ke sekolah setelah sampai di sekolah anak dilepas, dalam pengertian pedagog intinya adalah mengantarkan anak menuju pada kedewasaan. Istilah lainnya yaitu Paedagogia yang berarti pergaulan dengan anak, Pedagogi yang merupakan praktek pendidikan anak dan kemudian muncullah istilah Pedagogik yang berarti ilmu mendidik anak.

Selain pengertian-pengertian di atas, masi banyak lagi pengertian lainnya. Namun, inti dari semuanya tetaplah sama, yakni cara mengajari anak-anak untuk belajar. Proses belajar, tidak hanya terjadi di sekolah, di dalam kelas. Tetapi, di rumah pun juga dapat terjadi proses belajar.

Mengajar merupakan seni dan ilmu mentransformasikan bahan ajar kepada peserta didik pada situasi dan dengan media tertentu. Ilmu mengajar, dapat dipelajari dimanapun, kapanpun; individu maupun kelompok. Seni mengajar terlihat ketika terjadinya interaksi pembelajaran berlangsung. Seni mengajar tidak mungkin dapat kita jumpai dalam proses alami kehidupan alam organik.

Untuk memotivasi sang anak (siswa), seorang guru hendaknya mampu menangkap pikiran dan hati sang anak, memotivasi anak untuk belajar, menata lingkungan yang edukatif, membangun keaktifan belajar, dan memfasilitasi peluang besar. Proses seperti ini merupakan hubungan dua arah. Guru memberi dan siswa menerima bantuan dan bimbingan.

Dalam proses pembelajaran, kita (sebagai guru) dituntut untuk memiliki karakterisik pribadi yang cerdas, jujur, disiplin, penyayang, integritas, antusias, motif, komitmen, dan kesatria. Keahlian berkomunikasi dengan anak (siswa) juga sangat penting untuk menarik (memotivasi) sang anak (siswa). Dalam proses di dalam kelas, seorang pengajar (guru) harus memiliki persiapan, terorganisasi, konsisten, etika kerja, kecepatan, fleksibel, dan dialog interaktif, serta memiliki lingkungan belajar yang ‘santai’ dan terbuka untuk perubahan pengaturan agar tidak kaku.

Karakteristik dan tampilan di kelas, ada dan tidak dilakukan dalam dunia nyata, misalnya:

Berdasarkan Teori
Di kehidupan nyata
Penyayang
Saat saya masi sekolah SD, seorang guru terus mengajarkan kepada siswa yang belum paham akan materi yang di ajarkan dengan sabar.
Antusias dan komitmen
Saya pernah mengikuti suatu pembelajaran tentang komunikasi yang efektif. Namun, sang pembicara tidak menunjukkan hal itu. Pembicara berbicara sambi duduk dan malas.
Kecepatan dan Etika Kerja
Saat saya SMP, ada seorang guru yang pintar, namun memiliki etika kerja yang kurang baik. Masuk ke kelas sering terlambat, setelah di kelas memberikan materi dan tugas, setelah itu beliau tidur sambil duduk.
Ada pula guru yangdatang ke kelas terlambat, dan keluar lebih cepat (sebelum bel berbunyi)
Dialog Interaktif: pembelajaran dua arah
Masih dengan guru yang “tidur”, beliau memberikan jawaban akan tugas tersebut, tidak dengan cara interaktif 2 arah, beliau seolah hanya mengerjakan jawaban tersebut untuk dirinya sendiri, bukan untuk para siswa.
Sikap Fleksibel : terbuka atas ide, saran dan wawasan
Saat saya SMP, saya juga melakukan privat bahasa inggris dengan salah satu guru di sekolah tersebut, beliau memberikan pengajaran yang akan dipelajari esok harinya. Esok harinya, dengan guru yang berbeda dengan materi yang sama, ternyata guru privat memberikan pembelajaran yang sedikit ‘khilaf’, kepada saya, namun saya ngotot dengan apa yang saya pelajari tadi malamnya(dengan guru privat), sang guru memberikan pengetahuan lebih lengkap dan jelas kepada saya, san ternyata guru sekolah lah yang benar.
Jujur
Pengajar seperti ini sering saya temui. Ketika ada siswa yang bertanya mengenai suatu materi, tetapi beliau tidak tau jawabannya, beliau akan meminta waktu untuk mencari akan jawaban tersebut, dan disampaikan kepada siswa di pertemuan berikutnya.


Referensi:
Danim, Sudarwan, Khairil. 2010. Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta

Friday, December 21, 2012

Penyempurnaan UAS


“Beda Kuliah Berbeda Pula Tekniknya”


Tugas UAS Psikologi Belajar di semester ini, sesuai voting memposting di blog minimal 1000 kata. Yah, kebetulan suka ngetik, awalnya menganggap tugas ini cukup enak laa. Karena, buat proposal di pendahuluan aja udah bisa lebih dari 1000 kata. Makanya menganggap tugas ini lebih enak. Tapi, ketika mau ngerjain kok rasanya bingung yah? Mau mulai dari mana? Pilih tema apa dari 2 tema yang tersedia (Dinamika Psikologi Belajar dan Penugasan Psikologi Belajar dengan matakuliah yang lainnya dalam semester ini) yah? Setelah menimbang-nimbang, mengingat-ingat semua kejadian yang pernah terjadi selama hampir 1 semester ini, saya memutuskan untuk memilih tema “Penugasan Psikologi Belajar dengan matakuliah yang lainnya dalam semester ini”.
Berdasarkan teori dan proses pembelajaran:
Mengingat adalah pemrosesan Informasi secara kognitif. Dalam pemrosesan informasi terdapat 2 asumsi dasar, yaitu: a. Sistem Memori; b. Pengetahuan sebelumnya berperan penting dalam proses pembelajaran. Mengingat adalah proses mengaktifkan memori. Memori manusia sebagai sistem kompleks yang memproses dan mengorganisasikan semua pengetahuan kita. Memori manusia secara aktif memilih sensori yang akan diproses, untuk mengubah data menjadi informasi yang bermakna, dan menyimpan informasi yang akan digunakan dikemudian hari. Proses mengingat melalui beberapa tahapan:
1.     Persepsi: Proses memilih dan mengenali sinyal-sinyal fisik yang dapat merangsang alat indra. Hal ini di dapat berdasarkan perhatian individu terhadap sesuatu.
2.    Pengkodean: Proses memberikan kode/tanda dalam ingatan individu, sehingga informasi itu dapat dipertahankan dalam waktu panjang dan dapat diambil lagi ketika dibutuhkan.
3.    Pengambilan kembali (Retrieval): Proses mengakses kembali informasi-informasi yang telah disimpan didalam memori jangka panjang.

Ketika disuruh membandingkan penugasan dalam semester ini, cukup sulit menurut saya. Karena masing-masing mata-kuliah memiliki penugasan yang berbeda-beda. Yaah, bisa dibilang tugas Psikologi Belajar salah satu yang tugasnya cukup santai. Tugas dikerjakan dalam waktu seminggu dan dipostingkan di blog masing-masing peserta kuliah. Sedangkan mata kuliah lain, seperti kualitatif, penugasan dilakukan dalam waktu 1 semester (membuat proposal). Memang jangka waktu yang diberikan cukup panjang. Namun, penugasannya cukuplah sulit. Sehingga tetap harus dicicil dalam pengerjaannya. Agar ketika pengumpulan tugas (Proposal) tidak keteteran.
Mata kuliah Inventory Kepribadian-pun juga demikian. Tugas membuat blueprint untuk membuat alat tes. Berdasarkan pengalaman, melihat teman-teman yang pernah mengambil matakuliah ini, mengatakan tugas ini cukup sulit. Karena membuat Item haruslah mempertimbangkan berbagai situasi, situasi seperti apa yang hendak diukur. Ditambah, tugas ini dilakukan secara individu (tahun lalu dilakukan secara berkelompok). Dan dengan digabungnya matakuliah Inventory Kepribadian dengan Konstruksi alat ukur, seharusnya mempersingkat pengerjaan. Karena 1 tugas dalam 2 matakuliah. Tetapi, berdasarkan observasi tahun lalu dengan teman-teman yang mengambil matakuliah Konstruksi alat ukur, mereka melakukan tryout untuk mengetes, apakan alat ukur tersebut dapat digunakan dengan baik. Katanya, saat penyebaran skala tidaklah susah, namun yang susah saat memasukkan hasil skor aitem-aitem dalam SPSS. Karena memerlukan ketelitian. Untuk mengatasi hal ini, saya mencicil juga tugas-tugas itu (seperti membuat aitem-aitem dan diskusi dengan dosen pengampunya).
Psikologi Sosial Menyimpang, tidak memiliki tugas yang harus dikumpul tiap minggunya. Sisitem pembelajaran menggunakan tekhnik diskusi kelompok. Tugas diberikan dalam tiap kelompok, kelompok membahasnya dan tugas dituangkan dalam bentuk tulisan dan kemudian didiskusikan kembali didalam kelas. Sedangkan tugas UAS yang diberikan dalam matakuliah ini, lebih ke menjawab pertanyaan (Pilihan Berganda ataupun Essay).
Matakuliah Tes Intelligensi Minat dan Bakat, tidak ada tugas yang harus diselesaikan di setiap minggunya. Sistem perkuliahannya menggunakan metode biasa, yaitu presentasi dan praktek (administrasi, tes, dan skoring). Kalau membicarakan denagan penugasan dan dibandingkan dengan matakuliah Psikologi Belajar, ini juga merupakan matakuliah yang cukup santai (makalah diselesaikan saat sebelum Ujian Tengah Semester). Setelah MID kami melakukan prakterk di dalam kelas.
Untuk matakuliah Psikologi Kesehatan, sama seperti matakuliah umumnya, presentasi. Tapi tiap kelompok diwajibkan melakukan mini project mengenai kesehatan yang dikumpul saat ujian akhir semester. Bebas untuk melakukan apapun dalam proyek yang bersangkutan dengan kesehatan individu. Sistem Ujian Tengah Semester, seperti kebanyakan matakuliah ujiannya, yaitu pilihan berganda dan Essay.
Matakuliah yang menurut saya menguras banyak tenaga di matakuliah Intervensi Sosial, karena perkuliahan di dalam kelas hanya berlangsung selama 6 kali. Sampai akhir semester kami melakukan kerja lapangan. Melakukan intervensi sosial pada anggota yang sudah ditetapkan lokasi penelitiannya. Matakuliah ini 3 SKS, tapi penugasannya bisa melebihi 3 SKS. Tapi matakuliah ini salah satu matakuliah yang seru, karena kita terjun langsung ke lapangan. Kami tidak ada tugas untuk UTS, tapi kami UAS sistem sidang/presentasi (menurut senior yang pernah mengambil matakuliah ini.
Memang, jika dibandingkan dengan matakuliah-matakuliah di atas matakuliah ini termasuk yang enak. Tugas tiap minggu, tapi dilakukan dengan cara memposting tugas. Tidak perlu mengeluarkan biaya untuk ngeprint (GO GREEN YEE !!!). Namun, tugas UTS yang sedikit membingungkan memikirkan ide-ide yang sesuai dengan tema. Tapi alhamdulillah, kelompok kami dapat memilih tema yang lumayan bisa mempelajari tema kami yaitu ‘Bandura’. Setelah UTS, kami diberi tugas observasi lapangan ke salah satu sekolah berbasis elektronik. Seru, tapi kurang maksimal. Sedangkan, ditugas UAS, kami disuruh memposting juga. Tapi dengan tema-tema yang berbeda.
Berdasarkan teori dan proses pembelajaran:
Proses pembelajaran pada beberapa matakuliah dalam penyelesaian tugas menggunakan tekhnik Metakognisi, yaitu strategi pemahaman dalam pelajaran, dianggap sebagai pergeseran kearah kemampuan spontan untuk menghasilkan strategi yang efektif (Harnishfeger & Bjorklund, 1990). Teoritisi dan periset menghubungkan kemampuan menghasilkan strategi spontan dengan peningkatan kapabilitas siswa dalam memecahkan dan memperoleh keterampilan komponen dalam strategi tertentu.
Dalam penugasan matakuliah Psikologi Sosial Menyimpang, menggunakan tekhnik di atas. Tugas diberikan dihari H, untuk menimbulkan kreatifitas dalam membuat jawaban. Karena kemampuan spontan itu menghasilkan strategi yang efektif, dalam memecahkan dan memperoleh keterampilan dalam memberi jawaban. Dalam diskusi, beberapa orang dalam kelompok memberikan pendapat mereka tentang kasus yang diberikan oleh dosen pengampu. Sehingga, ketika seorang individu jawaban singkat sudah memenuhi, setelah diskusi ternyata banyak jawaban yang bisa dituangkan untuk menjawab soal/kasus yang diberikan oleh dosen pengampu.
Dalam bebrapa matakuliah, menggunakan pemahaman terhadap pengetahuan konseptual, yaitu isi atau konten pengetahuan didapat saat pemelajaran yang diterapkan dalam situasi tertentu. Setelah seseorang memiliki pengetahuan koneptual, individu membuat skema, yakni organisasi aktif atas reaksi di masa lalu yang diasumsikan selalu beroprasi didalam respon individu. Skema seseorang akan terus berkembang seiring berjalannya waktu (Brewer, 2000)
Menurut Bandura, seseorang akan cenderung meniru rang lain dalam proses pembelajaran. Karena menurutnya, seseorang yang belajar dari observasi jauh lebih pandai daripada cara lainnya. Saya melakukan hal itu, saya bertanya, melihat aktivitas senior-senior dan teman-teman yang pernah mengambil matakuliah-matakuliah yang saya ambil untuk dijadikan referensi saya dalam proses belajar. Terutama mengatur waktu.
Karena, dengar-dengar cerita dari senior, kalau salah satu matakuliah sangat menguras waktu. Bisa dilakukan dari pagi sampai malam. Maka dari itu mengatur jadwal sebaik-baiknya agar matakuliah lain tidak terbengkalai.

Kesimpulan:
Semua matakuliah pada dasarnya sama. Memiliki tujuan memberikan pengetahuan kepada mahasiswanya. Tugas-tugas yang diberikan dan tekhnik pembelajaran yang digunakan, pasti sudah dipikirkan dosen pengampu dengan baik agar mahasiswanya dapat menerima dan dapat memahami maksud dan tujuan dari tugas itu.Yang penting, bagaimana mahasiswa bisa memanfaatkan kesempatan-kesempatan itu dan belajar dari pengalaman untuk menjadi sosok yang lebih baik.

Wednesday, December 19, 2012

Ujian Akhir Semester


Tugas UAS Psikologi Belajar di semester ini, sesuai voting memposting di blog minimal 1000 kata. Yah, kebetulan suka ngetik, awalnya menganggap tugas ini cukup enak laa. Karena, buat proposal di pendahuluan aja udah bisa lebih dari 1000 kata. Makanya menganggap tugas ini lebih enak. Tapi, ketika mau ngerjain kok rasanya bingung yah? Mau mulai dari mana? Pilih tema apa dari 2 tema yang tersedia (Dinamika Psikologi Belajar dan Penugasan Psikologi Belajar dengan matakuliah yang lainnya dalam semester ini) yah? Setelah menimbang-nimbang, mengingat-ingat semua kejadian yang pernah terjadi selama hampir 1 semester ini, saya memutuskan untuk memilih tema “Penugasan Psikologi Belajar dengan matakuliah yang lainnya dalam semester ini”.

Berdasarkan teori dan proses pembelajaran:
Mengingat adalah pemrosesan Informasi secara kognitif. Dalam pemrosesan informasi terdapat 2 asumsi dasar, yaitu: a. Sistem Memori; b. Pengetahuan sebelumnya berperan penting dalam proses pembelajaran. Mengingat adalah proses mengaktifkan memori. Memori manusia sebagai sistem kompleks yang memproses dan mengorganisasikan semua pengetahuan kita. Memori manusia secara aktif memilih sensori yang akan diproses, untuk mengubah data menjadi informasi yang bermakna, dan menyimpan informasi yang akan digunakan dikemudian hari. Proses mengingat melalui beberapa tahapan:
   1.     Persepsi: Proses memilih dan mengenali sinyal-sinyal fisik yang dapat merangsang   alat indra. Hal ini di dapat berdasarkan perhatian individu terhadap sesuatu.
  2.    Pengkodean: Proses memberikan kode/tanda dalam ingatan individu, sehingga informasi itu dapat dipertahankan dalam waktu panjang dan dapat diambil lagi ketika dibutuhkan.
   3.    Pengambilan kembali (Retrieval): Proses mengakses kembali informasi-informasi yang telah disimpan didalam memori jangka panjang.

Ketika disuruh membandingkan penugasan dalam semester ini, cukup sulit menurut saya. Karena masing-masing mata-kuliah memiliki penugasan yang berbeda-beda. Yaah, bisa dibilang tugas Psikologi Belajar salah satu yang tugasnya cukup santai. Tugas dikerjakan dalam waktu seminggu dan dipostingkan di blog masing-masing peserta kuliah. Sedangkan mata kuliah lain, seperti kualitatif, penugasan dilakukan dalam waktu 1 semester (membuat proposal). Memang jangka waktu yang diberikan cukup panjang. Namun, penugasannya cukuplah sulit. Sehingga tetap harus dicicil dalam pengerjaannya. Agar ketika pengumpulan tugas (Proposal) tidak keteteran.
Mata kuliah Inventory Kepribadian-pun juga demikian. Tugas membuat blueprint untuk membuat alat tes. Berdasarkan pengalaman, melihat teman-teman yang pernah mengambil matakuliah ini, mengatakan tugas ini cukup sulit. Karena membuat Item haruslah mempertimbangkan berbagai situasi, situasi seperti apa yang hendak diukur. Ditambah, tugas ini dilakukan secara individu (tahun lalu dilakukan secara berkelompok). Dan dengan digabungnya matakuliah Inventory Kepribadian dengan Konstruksi alat ukur, seharusnya mempersingkat pengerjaan. Karena 1 tugas dalam 2 matakuliah. Tetapi, berdasarkan observasi tahun lalu dengan teman-teman yang mengambil matakuliah Konstruksi alat ukur, mereka melakukan tryout untuk mengetes, apakan alat ukur tersebut dapat digunakan dengan baik. Katanya, saat penyebaran skala tidaklah susah, namun yang susah saat memasukkan hasil skor aitem-aitem dalam SPSS. Karena memerlukan ketelitian. Untuk mengatasi hal ini, saya mencicil juga tugas-tugas itu (seperti membuat aitem-aitem dan diskusi dengan dosen pengampunya).
Psikologi Sosial Menyimpang, tidak memiliki tugas yang harus dikumpul tiap minggunya. Sisitem pembelajaran menggunakan tekhnik diskusi kelompok. Tugas diberikan dalam tiap kelompok, kelompok membahasnya dan tugas dituangkan dalam bentuk tulisan dan kemudian didiskusikan kembali didalam kelas. Sedangkan tugas UAS yang diberikan dalam matakuliah ini, lebih ke menjawab pertanyaan (Pilihan Berganda ataupun Essay).
Matakuliah Tes Intelligensi Minat dan Bakat, tidak ada tugas yang harus diselesaikan di setiap minggunya. Sistem perkuliahannya menggunakan metode biasa, yaitu presentasi dan praktek (administrasi, tes, dan skoring). Kalau membicarakan denagan penugasan dan dibandingkan dengan matakuliah Psikologi Belajar, ini juga merupakan matakuliah yang cukup santai (makalah diselesaikan saat sebelum Ujian Tengah Semester). Setelah MID kami melakukan prakterk di dalam kelas.
Untuk matakuliah Psikologi Kesehatan, sama seperti matakuliah umumnya, presentasi. Tapi tiap kelompok diwajibkan melakukan mini project mengenai kesehatan yang dikumpul saat ujian akhir semester. Bebas untuk melakukan apapun dalam proyek yang bersangkutan dengan kesehatan individu. Sistem Ujian Tengah Semester, seperti kebanyakan matakuliah ujiannya, yaitu pilihan berganda dan Essay.
Matakuliah yang menurut saya menguras banyak tenaga di matakuliah Intervensi Sosial, karena perkuliahan di dalam kelas hanya berlangsung selama 6 kali. Sampai akhir semester kami melakukan kerja lapangan. Melakukan intervensi sosial pada anggota yang sudah ditetapkan lokasi penelitiannya. Matakuliah ini 3 SKS, tapi penugasannya bisa melebihi 3 SKS. Tapi matakuliah ini salah satu matakuliah yang seru, karena kita terjun langsung ke lapangan. Kami tidak ada tugas untuk UTS, tapi kami UAS sistem sidang/presentasi (menurut senior yang pernah mengambil matakuliah ini.
Memang, jika dibandingkan dengan matakuliah-matakuliah di atas matakuliah ini termasuk yang enak. Tugas tiap minggu, tapi dilakukan dengan cara memposting tugas. Tidak perlu mengeluarkan biaya untuk ngeprint (GO GREEN YEE !!!). Namun, tugas UTS yang sedikit membingungkan memikirkan ide-ide yang sesuai dengan tema. Tapi alhamdulillah, kelompok kami dapat memilih tema yang lumayan bisa mempelajari tema kami yaitu ‘Bandura’. Setelah UTS, kami diberi tugas observasi lapangan ke salah satu sekolah berbasis elektronik. Seru, tapi kurang maksimal. Sedangkan, ditugas UAS, kami disuruh memposting juga. Tapi dengan tema-tema yang berbeda.

Berdasarkan teori dan proses pembelajaran:
Proses pembelajaran pada beberapa matakuliah dalam penyelesaian tugas menggunakan tekhnik Metakognisi, yaitu strategi pemahaman dalam pelajaran, dianggap sebagai pergeseran kearah kemampuan spontan untuk menghasilkan strategi yang efektif (Harnishfeger & Bjorklund, 1990). Teoritisi dan periset menghubungkan kemampuan menghasilkan strategi spontan dengan peningkatan kapabilitas siswa dalam memecahkan dan memperoleh keterampilan komponen dalam strategi tertentu.
Dalam penugasan matakuliah Psikologi Sosial Menyimpang, menggunakan tekhnik di atas. Tugas diberikan dihari H, untuk menimbulkan kreatifitas dalam membuat jawaban. Karena kemampuan spontan itu menghasilkan strategi yang efektif, dalam memecahkan dan memperoleh keterampilan dalam memberi jawaban. Dalam diskusi, beberapa orang dalam kelompok memberikan pendapat mereka tentang kasus yang diberikan oleh dosen pengampu. Sehingga, ketika seorang individu jawaban singkat sudah memenuhi, setelah diskusi ternyata banyak jawaban yang bisa dituangkan untuk menjawab soal/kasus yang diberikan oleh dosen pengampu.
Dalam bebrapa matakuliah, menggunakan pemahaman terhadap pengetahuan konseptual, yaitu isi atau konten pengetahuan didapat saat pemelajaran yang diterapkan dalam situasi tertentu. Setelah seseorang memiliki pengetahuan koneptual, individu membuat skema, yakni organisasi aktif atas reaksi di masa lalu yang diasumsikan selalu beroprasi didalam respon individu. Skema seseorang akan terus berkembang seiring berjalannya waktu (Brewer, 2000)
Menurut Bandura, seseorang akan cenderung meniru rang lain dalam proses pembelajaran. Karena menurutnya, seseorang yang belajar dari observasi jauh lebih pandai daripada cara lainnya. Saya melakukan hal itu, saya bertanya, melihat aktivitas senior-senior dan teman-teman yang pernah mengambil matakuliah-matakuliah yang saya ambil untuk dijadikan referensi saya dalam proses belajar. Terutama mengatur waktu.
Karena, dengar-dengar cerita dari senior, kalau salah satu matakuliah sangat menguras waktu. Bisa dilakukan dari pagi sampai malam. Maka dari itu mengatur jadwal sebaik-baiknya agar matakuliah lain tidak terbengkalai.

Kesimpulan:
Semua matakuliah pada dasarnya sama. Memiliki tujuan memberikan pengetahuan kepada mahasiswanya. Tugas-tugas yang diberikan dan tekhnik pembelajaran yang digunakan, pasti sudah dipikirkan dosen pengampu dengan baik agar mahasiswanya dapat menerima dan dapat memahami maksud dan tujuan dari tugas itu.Yang penting, bagaimana mahasiswa bisa memanfaatkan kesempatan-kesempatan itu dan belajar dari pengalaman untuk menjadi sosok yang lebih baik.